"Hey, kamu mau mendaki?"
"Iya," jawabku tanpa melihat ekspresi laki-laki yang duduk di depanku. Aku tahu, dia pasti akan menanyakan hal ini karena sering sekali kuposting tentang pendakian.
"Jangan, aku gak setuju deh. Itu berbahaya, terlalu beresiko apalagi kamu perempuan." Jawabnya
Aku tak terlalu fokus menatap wajahnya saat ia bicara, namun dari intonasinya mampu menggambarkan rasa tidak setujunya.
"Kenapa? Kamu kan tau kalau aku suka jalan-jalan. Dan mendaki adalah salah satu hal yang harus ingin sekali aku lakukan. Pasti seru." Jawabku bersemangat
"Iya, aku tahu. Aku gak pengen kamu kenapa-napa, jangan mendaki dulu yah. Nanti saja kita mendaki berdua, biar aku bisa jagain kamu."
"Yeeey, kapan itu? Kelamaan!"
"Itu tergantung kamu".
"Kok aku sih? Aku ya pengennya secepatnya."
"Kalau gitu, ijinkan aku mendaki hatimu dulu. Setelah kumampu menaklukkan gunungan hatimu yang paling tinggi, percayalah, kau kan kuhalalkan. Lalu kuajak mendaki ke puncak manapun kau suka."
Aku akan selalu di sampingmu kala kau lelah dan butuh sandaran. Mengulurkan tangan untuk meraihmu di tebing-tebing yang sulit. Percayalah, pendakianmu kan selalu menyenangkan bersamaku. Lalu setelah pendakian yang sulit itu, akan kuteriakkan "i love you" dari atas puncak gunung agar seluruh alam tahu. Indah bukan?" Jawabnya panjang lebar dengan intonasi yang merdu, dan belum pernah kudengar sebelumnya.
Lagi-lagi ku tak mampu menatap wajahnya, karena tiba-tiba aku terbangun dari tidur siang.
Emaaakk, jebul hanya mimpi hiks
Selasa, 19 Mei 2015
Senin, 11 Mei 2015
Pujangga "Kawak"an
Kumasuki ruangan kelas, dan mengawasi anak-anak yang
sedang bermain. Untuk anak berusia sekitar 4 tahunan, bermain lego termasuk
salah satu yang menarik minat mereka. selain aktifitas fisik tentunya. Jangan
tanya tentang kegaduhan saat free play ini, bagi yang tidak biasa, aku yakin
kondisi seperti ini bisa membuat sakit kepala (haha, curhat). Tapi ini betul.
Anak-anak berlarian, tertawa, bertengkar dan menangis karena
berebut mainan itu hal yang lumrah terjadi. Seperti kala itu, baru sebentar
kududuk untuk mengawasi dan melepas lelah, tiba-tiba datanglah Yusuf sambil menangis
tersedu.
“Ada apa Mas, kok menangis?” Tanyaku sambil menampakkan
wajah penasaran (padahal wajah asliku adalah lelah, tetapi menjadi seorang guru
TK itu harus lebay, eh tidak harus ding)
“Itu Anes, gak mau berbagi mainannya. Punyaku direbut,
padahal dia sudah main balok. Legonya juga diambil.” Ujarnya sambil terisak
Padahal aku sedang lelah, plus pusing. Kondisi seperti ini
menguji kesabaranku tiap hari.
“Udah, kamu duduk aja di sini deket Bu Guru. Dengerin ya
Yusuf, kamu itu laki-laki kan? Masa sih kamu nangis hanya gara-gara mainan?” ujarku
pada laki-laki berusia empat tahun itu, “kamu tahu gak, tidak pantes kamu
nangis hanya gara-gara soal sepele seperti itu. Dalam hidup ada hal-hal yang
layak kamu tangisi, dan itu bukan mainan.” Ucapku serius sambil menatapnya
(Aslinya sih, aku lagi capek dan malas turun tangan, upss)
“Dan aduh, Anes itu perempuan. Masa sih kamu nangis karena
perempuan? Ayo kuat, main lagi saja sana. Kalau Anes bikin kamu nangis, ada
temen lain yang bisa bikin kamu tertawa.” Aku makin berapi-api
Sungguh aku tidak bohong, Yusuf langsung diam dan
mendengarkan. Entah dia mengerti atau tidak. Setelah itu dia langsung beranjak
dari dekatku dan bergabung, bermain lagi dengan temannya yang lain. Dan yang
aneh justru diriku sendiri. Kenapa bisa ngomong seperti itu pada anak kecil? Aku
bengong. Haha
Padahal seharusnya ketika bicara dengan anak, gunakan bahasa
yang mudah dipahami anak. Tapi tak salah juga kita berpujangga pada anak. Siapa
tahu kelak kau kan jadi pujangga, Nak. Pujangga betulan tentunya, tidak seperti
gurumu ini. Hihi
Senin, 20 April 2015
Nasihat Pernikahan dari Anak TK
Nasihat Pernikahan Seorang Anak TK
True story #akudanmuridku
Pagi ini aku menerima sebuah undangan berwarna coklat. Rupanya seorang rekan kerja akan menikah di akhir pekan ini.
Kabar bahagia mengetahui seorang teman akan segera menyempurnakan separuh dien-Nya, di sisi lain muncul keresahan dalam diri. "Aku kapan ya?" Tak sengaja mampir dalam otak, dan itu langsung menyeretku dalam kegalauan terdalam secara mendadak.
Tanpa sadar kubaca undangan itu berulang-berulang sambil mengkhayalkan, "kapan namaku tercetak dalam sebuah undangan?" Haissshh
Dan ketika aku sedang berada dalam kegalauan mendalam, serta kecemburuan yang menusuk batin(ahh, lebay). Tiba-tiba datang seorang murid perempuanku, sebut saja Echa, membuyarkan pesta kegalauan.
"Lagi baca apa, Bu?"
"Ini undangan," jawabku pendek sambil memperlihatkan undangan itu padanya.
"Undangan menikah ya?" tanyanya lagi sambil mencoba membaca kalimat-kalimat yang tertera. Echa kebetulan sudah lancar membaca, tahun ini ia akan masuk SD.
"Oh, Bu Mia mau nikah ya? Terus Bu guru mau nikah juga?" Ia bertanya sambil menyorotkan matanya yang tajam ke arahku. Aku gelagapan, dalam hati aku berkata, "ya iyalah, itu yang dari tadi bikin aku galau."
Namun belum sempat kujawab, Echa justru mengatakan sesuatu yang bikin hatiku senot-senot.
"Bu Guru jangan nikah. Gak usah nikah pokoknya!" Ucapnya tegas. Gadis berusia 6 tahun dan bertubuh gemuk itu menatapku serius.
"Pokoknya jangan nikah, Bu. Nikah itu capek. Nanti Bu Guru ngepel, nyapu, masak terus nyuci. Capek khan?"
Omeigott, kau hanya membuat prosentase kegalauanku bertambah, Nak.
"Tapi Bu Guru kan kerja," kucoba menangkis jawaban anak kecil itu.
"Lah itu malah lebih capek, pulang kerja nanti mesti nyapu, ngepel, nyuci terus masak. Pokoknya jangan nikah!"
Ampuuunn, ini anak belajar dari siapa sihh? Kan aku makin galau, hiks.
Tapi apapun itu, jika jernih hati kita seharusnya bisa memetik "maksud" dari kata-kata bocah berusia 6 tahun itu.
Aku tak pernah menyangka, anak kecil mampu menyadarkanku akan sisi lain dari sebuah hakikat pernikahan itu sendiri. Jangan hanya memikirkan hal-hal yang indah saja setelah menikah, tapi banyak hal yang nanti harus kita hadapi dan jalani. Termasuk hal yang tidak kita sukai dan tak diinginkan. Ada amanah dan tanggung jawab yang berat di sana.
Untuk kalian yang akan menikah dalam waktu dekat, semoga SAMARA ya. Barokallaah.
Met Rehat, pals.
Sepotong kisah hari ini.
True story #akudanmuridku
Pagi ini aku menerima sebuah undangan berwarna coklat. Rupanya seorang rekan kerja akan menikah di akhir pekan ini.
Kabar bahagia mengetahui seorang teman akan segera menyempurnakan separuh dien-Nya, di sisi lain muncul keresahan dalam diri. "Aku kapan ya?" Tak sengaja mampir dalam otak, dan itu langsung menyeretku dalam kegalauan terdalam secara mendadak.
Tanpa sadar kubaca undangan itu berulang-berulang sambil mengkhayalkan, "kapan namaku tercetak dalam sebuah undangan?" Haissshh
Dan ketika aku sedang berada dalam kegalauan mendalam, serta kecemburuan yang menusuk batin(ahh, lebay). Tiba-tiba datang seorang murid perempuanku, sebut saja Echa, membuyarkan pesta kegalauan.
"Lagi baca apa, Bu?"
"Ini undangan," jawabku pendek sambil memperlihatkan undangan itu padanya.
"Undangan menikah ya?" tanyanya lagi sambil mencoba membaca kalimat-kalimat yang tertera. Echa kebetulan sudah lancar membaca, tahun ini ia akan masuk SD.
"Oh, Bu Mia mau nikah ya? Terus Bu guru mau nikah juga?" Ia bertanya sambil menyorotkan matanya yang tajam ke arahku. Aku gelagapan, dalam hati aku berkata, "ya iyalah, itu yang dari tadi bikin aku galau."
Namun belum sempat kujawab, Echa justru mengatakan sesuatu yang bikin hatiku senot-senot.
"Bu Guru jangan nikah. Gak usah nikah pokoknya!" Ucapnya tegas. Gadis berusia 6 tahun dan bertubuh gemuk itu menatapku serius.
"Pokoknya jangan nikah, Bu. Nikah itu capek. Nanti Bu Guru ngepel, nyapu, masak terus nyuci. Capek khan?"
Omeigott, kau hanya membuat prosentase kegalauanku bertambah, Nak.
"Tapi Bu Guru kan kerja," kucoba menangkis jawaban anak kecil itu.
"Lah itu malah lebih capek, pulang kerja nanti mesti nyapu, ngepel, nyuci terus masak. Pokoknya jangan nikah!"
Ampuuunn, ini anak belajar dari siapa sihh? Kan aku makin galau, hiks.
Tapi apapun itu, jika jernih hati kita seharusnya bisa memetik "maksud" dari kata-kata bocah berusia 6 tahun itu.
Aku tak pernah menyangka, anak kecil mampu menyadarkanku akan sisi lain dari sebuah hakikat pernikahan itu sendiri. Jangan hanya memikirkan hal-hal yang indah saja setelah menikah, tapi banyak hal yang nanti harus kita hadapi dan jalani. Termasuk hal yang tidak kita sukai dan tak diinginkan. Ada amanah dan tanggung jawab yang berat di sana.
Untuk kalian yang akan menikah dalam waktu dekat, semoga SAMARA ya. Barokallaah.
Met Rehat, pals.
Sepotong kisah hari ini.
Rabu, 25 Maret 2015
Korban Drakor
"Mas Arya, bu guru sudah bilang kan? Kalau rambut Arya sudah mulai panjang, waktunya untuk dicukur, nanti bilang ke Mama yahh". Pintaku sambil mengusap rambut bocah yang hampir berusia 5 tahun itu. Arya terlihat mengangguk sambil menatapku.
Dua minggu sudah sejak hari itu, tapi sepertinya tidak ada perubahan pada rambut Arya. Malah semakin panjang saja. Belum lagi guru dari kelas sebelah yang mengingatkanku, kalau rambut Arya sudah "gondrong". Maka lagi-lagi kuingatkan Arya tentang rambutnya, aku takut kalau dia terkategori anak yang "tidak mau" cukur rambut seperti muridku dulu.
Hamzah, dia seperti ketakutan atau trauma sekali dengan aktifitas "cukur rambut". Sampai-sampai aku dan orangtuanya bekerjasama dalam menyukseskan acara "potong rambut" si Hamzah. Dan keesokan harinya setelah dicukur, aku harus dipaksa menjemput Hamzah untuk bisa ke sekolah. Dan kerennya lagi tenagaku dan Bunda Hamzah tak kuat untuk menahan kekuatan Hamzah yang terus meronta. Sementara sang ayah sudah menyerah di seberang jalan, dan meminta kami berdua untuk menyerah. Namun sang bunda menolak hingga becak yang kami tumpangi hampir saja terbalik.
Apa mungkin Arya juga seperti itu? Tapi ibunya tak pernah cerita, ataupun memintaku untuk memotivasi Arya. So, kenapa Arya tak jua memotong rambutnya yang sudah gondrong itu?
Kebetulan sore itu, ada silaturahmi bulanana yang dihadiri semua wali murid, tak terkecuali orangtua Arya.
"Bu, maaf Arya belum potong rambut. Kata Arya sudah disuruh potong terus sama bu guru. Nanti aja ya Bu, tunggu sedikit lagi biar nambah gondrong, biar kaya artis-artis Korea. Saya nge-fans Bu".
GUBBBRAAAKKK *Aku nelen hapeeeee
Oemjiiiiiii, ibuuuuuuu
Dua minggu sudah sejak hari itu, tapi sepertinya tidak ada perubahan pada rambut Arya. Malah semakin panjang saja. Belum lagi guru dari kelas sebelah yang mengingatkanku, kalau rambut Arya sudah "gondrong". Maka lagi-lagi kuingatkan Arya tentang rambutnya, aku takut kalau dia terkategori anak yang "tidak mau" cukur rambut seperti muridku dulu.
Hamzah, dia seperti ketakutan atau trauma sekali dengan aktifitas "cukur rambut". Sampai-sampai aku dan orangtuanya bekerjasama dalam menyukseskan acara "potong rambut" si Hamzah. Dan keesokan harinya setelah dicukur, aku harus dipaksa menjemput Hamzah untuk bisa ke sekolah. Dan kerennya lagi tenagaku dan Bunda Hamzah tak kuat untuk menahan kekuatan Hamzah yang terus meronta. Sementara sang ayah sudah menyerah di seberang jalan, dan meminta kami berdua untuk menyerah. Namun sang bunda menolak hingga becak yang kami tumpangi hampir saja terbalik.
Apa mungkin Arya juga seperti itu? Tapi ibunya tak pernah cerita, ataupun memintaku untuk memotivasi Arya. So, kenapa Arya tak jua memotong rambutnya yang sudah gondrong itu?
Kebetulan sore itu, ada silaturahmi bulanana yang dihadiri semua wali murid, tak terkecuali orangtua Arya.
"Bu, maaf Arya belum potong rambut. Kata Arya sudah disuruh potong terus sama bu guru. Nanti aja ya Bu, tunggu sedikit lagi biar nambah gondrong, biar kaya artis-artis Korea. Saya nge-fans Bu".
GUBBBRAAAKKK *Aku nelen hapeeeee
Oemjiiiiiii, ibuuuuuuu
Minggu, 22 Maret 2015
A Love letter to my fubby
Malam, kutatapi ribuan bintang yang berserak di segala penjuru langit. Dan tetiba, segala tentangmu membanjiri pikirku. Yah kau, kau yang tak pernah aku tahu, tak pernah aku kenal tiba-tiba mengusik hening malamku.
Where are you now, my dear? Masihkah di sana, di belahan bumi utara? Atau kini kau telah melewati ribuan kilometer, dan kian dekat denganku. Sungguh, andainya aku tahu.
Dear,
Have you ever miss me, or wondering about me?
Seperti yang kurasakan sekarang, merinduimu pada batas angan yang tak lekang.
Waktu berlalu, mendetak harap pada tiap detik bahwa kau kan segera datang.
But you still not come..
Bahkan bayu pun tak pernah mampu membisikkan namamu padaku
Lalu, ku hanya mampu merangkai doa dan tengadahkan wajah ke langit. Melontarkan rangkaian doa yang telah kupilin dengan jutaan yakin, berharap langit kan memberi jawab. Semoga Allah memberi cahaya tuk terangi jalanmu, menujuku. I hope soon you find your way to me. Dear, im waiting here.
Ya, kutahu kita tak pernah mengenal sebelumnya. Seperti apakah dirimu, dan bagaimanakah adanya dirimu kini.
Mungkin saja detik ini, di hati dan pikiranmu sedang dipenuhi oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Ya seseorang, bukan aku.
Namun kupercaya dengan sepenuh jiwa, jika aku adalah takdirmu, no hell can burn your frozen love to me.
Atau mungkin, kau sedang menyibukkan diri. Mengindahkan akhlak, memperbaiki hati. Menjadi seorang khalifah, menunaikan amanah. Ya, tunaikanlah dulu amanahmu lalu segeralah kau temukan aku. Temukan aku dalam larik-larik cintamu pada-Nya.
Dan mungkin pula, di sisi hatimu tersimpan kerinduan. Menjejak mimpi beserta kepiluan. Berharap tuk segera menemukanku, bagian tulang rusukmu yang hilang. Akan tetapi, kau masih harus berjuang bergelut dengan kesabaran. Be patient, Dear Fubby.
Dear, I want you to know. Apapun dan bagaimanapun kita saat ini, tak pernah sekalipun aku lelah dan terlupa tuk mengutip namamu dalam lantunan kidung malamku. Berharap seluruh jagat raya mendengar dan meng-aminkan, kidung rindu di penghujung malam.
Semoga Allah menguatkan asa dan keyakinan, dan menjadikanmu seorang imam pilihan. Untukku, ya hanya untukku.
Lewat malam, kuingin berkata padamu. Uraikan segala beban rindu, padamu penopang hidupku.
Pada angin ingin kukatakan, temanilah ia yang sedang tersendirian. Tersesat, berliku mencari jalan. Menyatukan dua jiwa yang terbelah, menjadi harmoni indah, pada satu rangkaian.
Please Angels, send my salaam to him
Tell him, I’m waiting with all of my dreams
Dear,
Ini suratku yang ke-entah. Belum lelah kutuliskan untukmu, meski tak tahu kemana harus dikirimkan. Surat yang belum beralamat.
But I do believe, someday, somehow it will reach you.
From,
Your Future Wifey
Where are you now, my dear? Masihkah di sana, di belahan bumi utara? Atau kini kau telah melewati ribuan kilometer, dan kian dekat denganku. Sungguh, andainya aku tahu.
Dear,
Have you ever miss me, or wondering about me?
Seperti yang kurasakan sekarang, merinduimu pada batas angan yang tak lekang.
Waktu berlalu, mendetak harap pada tiap detik bahwa kau kan segera datang.
But you still not come..
Bahkan bayu pun tak pernah mampu membisikkan namamu padaku
Lalu, ku hanya mampu merangkai doa dan tengadahkan wajah ke langit. Melontarkan rangkaian doa yang telah kupilin dengan jutaan yakin, berharap langit kan memberi jawab. Semoga Allah memberi cahaya tuk terangi jalanmu, menujuku. I hope soon you find your way to me. Dear, im waiting here.
Ya, kutahu kita tak pernah mengenal sebelumnya. Seperti apakah dirimu, dan bagaimanakah adanya dirimu kini.
Mungkin saja detik ini, di hati dan pikiranmu sedang dipenuhi oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Ya seseorang, bukan aku.
Namun kupercaya dengan sepenuh jiwa, jika aku adalah takdirmu, no hell can burn your frozen love to me.
Atau mungkin, kau sedang menyibukkan diri. Mengindahkan akhlak, memperbaiki hati. Menjadi seorang khalifah, menunaikan amanah. Ya, tunaikanlah dulu amanahmu lalu segeralah kau temukan aku. Temukan aku dalam larik-larik cintamu pada-Nya.
Dan mungkin pula, di sisi hatimu tersimpan kerinduan. Menjejak mimpi beserta kepiluan. Berharap tuk segera menemukanku, bagian tulang rusukmu yang hilang. Akan tetapi, kau masih harus berjuang bergelut dengan kesabaran. Be patient, Dear Fubby.
Dear, I want you to know. Apapun dan bagaimanapun kita saat ini, tak pernah sekalipun aku lelah dan terlupa tuk mengutip namamu dalam lantunan kidung malamku. Berharap seluruh jagat raya mendengar dan meng-aminkan, kidung rindu di penghujung malam.
Semoga Allah menguatkan asa dan keyakinan, dan menjadikanmu seorang imam pilihan. Untukku, ya hanya untukku.
Lewat malam, kuingin berkata padamu. Uraikan segala beban rindu, padamu penopang hidupku.
Pada angin ingin kukatakan, temanilah ia yang sedang tersendirian. Tersesat, berliku mencari jalan. Menyatukan dua jiwa yang terbelah, menjadi harmoni indah, pada satu rangkaian.
Please Angels, send my salaam to him
Tell him, I’m waiting with all of my dreams
Dear,
Ini suratku yang ke-entah. Belum lelah kutuliskan untukmu, meski tak tahu kemana harus dikirimkan. Surat yang belum beralamat.
But I do believe, someday, somehow it will reach you.
From,
Your Future Wifey
Jumat, 20 Maret 2015
Sekejap
rinduku membelah di sepertiga malam
Bersama pecahan-pecahan luka yang melebam
Desir rindu kuat mendekap
Bertarung dingin jiwa dengan pekat
Tuhan,
Dengarlah kidung sumbang keluhan
Irama bernotasi keresahan
Gemericik air doa, usir senyap
Pangkas resahku meski sekejap
Kelu lidah tak kuasa berucap
Tuhan,
Aku ingin Kau dekap
Senandung yang kucipta
Mampukah ia hadirkan cinta-Mu
Leburkan tiap noktah meragu
Tegal, Maret 2015
Bersama pecahan-pecahan luka yang melebam
Desir rindu kuat mendekap
Bertarung dingin jiwa dengan pekat
Tuhan,
Dengarlah kidung sumbang keluhan
Irama bernotasi keresahan
Gemericik air doa, usir senyap
Pangkas resahku meski sekejap
Kelu lidah tak kuasa berucap
Tuhan,
Aku ingin Kau dekap
Senandung yang kucipta
Mampukah ia hadirkan cinta-Mu
Leburkan tiap noktah meragu
Tegal, Maret 2015
Kamis, 05 Maret 2015
Cinta Rindu Doa
Aku tahu, bahwa kau tak ingin melampaui batasan. Sama halnya
aku, tetap setia dengan alasan demikian. Maka disinilah kita, berkawan setia
dengan kesepian. Memuja hening di antara kebisingan.
Ingin kuusik pena rindu, di antara gemericik airair doa yang
mengucur. Ingin kusapa rindu, di tengah nyeri yang membilur. Uhh, bilakah “jeda”
ini akan hancur?
Kupungut resah di antara lelah yang memayah. Segala bentuk
percaya bertemu dengan uji, haruskah?
Wahai gerimis kecil, terdengarkah olehmu aku memanggil? Serak
tangisku di antara gigil. Terpisah dari-nya buatku kerdil.
Aku takkan pernah bertanya tentang makna cinta, karena ia
selalu hadir pada tiap doa di tengah rindu yang kupunya.
Masih kumiliki sebentuk percaya, di tengah-tengah mustahil yang menggurita. Karena cinta 'kan selalu merindukan doa
Langganan:
Postingan (Atom)