"Mas Arya, bu guru sudah bilang kan? Kalau rambut Arya sudah mulai panjang, waktunya untuk dicukur, nanti bilang ke Mama yahh". Pintaku sambil mengusap rambut bocah yang hampir berusia 5 tahun itu. Arya terlihat mengangguk sambil menatapku.
Dua minggu sudah sejak hari itu, tapi sepertinya tidak ada perubahan pada rambut Arya. Malah semakin panjang saja. Belum lagi guru dari kelas sebelah yang mengingatkanku, kalau rambut Arya sudah "gondrong". Maka lagi-lagi kuingatkan Arya tentang rambutnya, aku takut kalau dia terkategori anak yang "tidak mau" cukur rambut seperti muridku dulu.
Hamzah, dia seperti ketakutan atau trauma sekali dengan aktifitas "cukur rambut". Sampai-sampai aku dan orangtuanya bekerjasama dalam menyukseskan acara "potong rambut" si Hamzah. Dan keesokan harinya setelah dicukur, aku harus dipaksa menjemput Hamzah untuk bisa ke sekolah. Dan kerennya lagi tenagaku dan Bunda Hamzah tak kuat untuk menahan kekuatan Hamzah yang terus meronta. Sementara sang ayah sudah menyerah di seberang jalan, dan meminta kami berdua untuk menyerah. Namun sang bunda menolak hingga becak yang kami tumpangi hampir saja terbalik.
Apa mungkin Arya juga seperti itu? Tapi ibunya tak pernah cerita, ataupun memintaku untuk memotivasi Arya. So, kenapa Arya tak jua memotong rambutnya yang sudah gondrong itu?
Kebetulan sore itu, ada silaturahmi bulanana yang dihadiri semua wali murid, tak terkecuali orangtua Arya.
"Bu, maaf Arya belum potong rambut. Kata Arya sudah disuruh potong terus sama bu guru. Nanti aja ya Bu, tunggu sedikit lagi biar nambah gondrong, biar kaya artis-artis Korea. Saya nge-fans Bu".
GUBBBRAAAKKK *Aku nelen hapeeeee
Oemjiiiiiii, ibuuuuuuu
Rabu, 25 Maret 2015
Minggu, 22 Maret 2015
A Love letter to my fubby
Malam, kutatapi ribuan bintang yang berserak di segala penjuru langit. Dan tetiba, segala tentangmu membanjiri pikirku. Yah kau, kau yang tak pernah aku tahu, tak pernah aku kenal tiba-tiba mengusik hening malamku.
Where are you now, my dear? Masihkah di sana, di belahan bumi utara? Atau kini kau telah melewati ribuan kilometer, dan kian dekat denganku. Sungguh, andainya aku tahu.
Dear,
Have you ever miss me, or wondering about me?
Seperti yang kurasakan sekarang, merinduimu pada batas angan yang tak lekang.
Waktu berlalu, mendetak harap pada tiap detik bahwa kau kan segera datang.
But you still not come..
Bahkan bayu pun tak pernah mampu membisikkan namamu padaku
Lalu, ku hanya mampu merangkai doa dan tengadahkan wajah ke langit. Melontarkan rangkaian doa yang telah kupilin dengan jutaan yakin, berharap langit kan memberi jawab. Semoga Allah memberi cahaya tuk terangi jalanmu, menujuku. I hope soon you find your way to me. Dear, im waiting here.
Ya, kutahu kita tak pernah mengenal sebelumnya. Seperti apakah dirimu, dan bagaimanakah adanya dirimu kini.
Mungkin saja detik ini, di hati dan pikiranmu sedang dipenuhi oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Ya seseorang, bukan aku.
Namun kupercaya dengan sepenuh jiwa, jika aku adalah takdirmu, no hell can burn your frozen love to me.
Atau mungkin, kau sedang menyibukkan diri. Mengindahkan akhlak, memperbaiki hati. Menjadi seorang khalifah, menunaikan amanah. Ya, tunaikanlah dulu amanahmu lalu segeralah kau temukan aku. Temukan aku dalam larik-larik cintamu pada-Nya.
Dan mungkin pula, di sisi hatimu tersimpan kerinduan. Menjejak mimpi beserta kepiluan. Berharap tuk segera menemukanku, bagian tulang rusukmu yang hilang. Akan tetapi, kau masih harus berjuang bergelut dengan kesabaran. Be patient, Dear Fubby.
Dear, I want you to know. Apapun dan bagaimanapun kita saat ini, tak pernah sekalipun aku lelah dan terlupa tuk mengutip namamu dalam lantunan kidung malamku. Berharap seluruh jagat raya mendengar dan meng-aminkan, kidung rindu di penghujung malam.
Semoga Allah menguatkan asa dan keyakinan, dan menjadikanmu seorang imam pilihan. Untukku, ya hanya untukku.
Lewat malam, kuingin berkata padamu. Uraikan segala beban rindu, padamu penopang hidupku.
Pada angin ingin kukatakan, temanilah ia yang sedang tersendirian. Tersesat, berliku mencari jalan. Menyatukan dua jiwa yang terbelah, menjadi harmoni indah, pada satu rangkaian.
Please Angels, send my salaam to him
Tell him, I’m waiting with all of my dreams
Dear,
Ini suratku yang ke-entah. Belum lelah kutuliskan untukmu, meski tak tahu kemana harus dikirimkan. Surat yang belum beralamat.
But I do believe, someday, somehow it will reach you.
From,
Your Future Wifey
Where are you now, my dear? Masihkah di sana, di belahan bumi utara? Atau kini kau telah melewati ribuan kilometer, dan kian dekat denganku. Sungguh, andainya aku tahu.
Dear,
Have you ever miss me, or wondering about me?
Seperti yang kurasakan sekarang, merinduimu pada batas angan yang tak lekang.
Waktu berlalu, mendetak harap pada tiap detik bahwa kau kan segera datang.
But you still not come..
Bahkan bayu pun tak pernah mampu membisikkan namamu padaku
Lalu, ku hanya mampu merangkai doa dan tengadahkan wajah ke langit. Melontarkan rangkaian doa yang telah kupilin dengan jutaan yakin, berharap langit kan memberi jawab. Semoga Allah memberi cahaya tuk terangi jalanmu, menujuku. I hope soon you find your way to me. Dear, im waiting here.
Ya, kutahu kita tak pernah mengenal sebelumnya. Seperti apakah dirimu, dan bagaimanakah adanya dirimu kini.
Mungkin saja detik ini, di hati dan pikiranmu sedang dipenuhi oleh kehadiran seseorang dalam hidupmu. Ya seseorang, bukan aku.
Namun kupercaya dengan sepenuh jiwa, jika aku adalah takdirmu, no hell can burn your frozen love to me.
Atau mungkin, kau sedang menyibukkan diri. Mengindahkan akhlak, memperbaiki hati. Menjadi seorang khalifah, menunaikan amanah. Ya, tunaikanlah dulu amanahmu lalu segeralah kau temukan aku. Temukan aku dalam larik-larik cintamu pada-Nya.
Dan mungkin pula, di sisi hatimu tersimpan kerinduan. Menjejak mimpi beserta kepiluan. Berharap tuk segera menemukanku, bagian tulang rusukmu yang hilang. Akan tetapi, kau masih harus berjuang bergelut dengan kesabaran. Be patient, Dear Fubby.
Dear, I want you to know. Apapun dan bagaimanapun kita saat ini, tak pernah sekalipun aku lelah dan terlupa tuk mengutip namamu dalam lantunan kidung malamku. Berharap seluruh jagat raya mendengar dan meng-aminkan, kidung rindu di penghujung malam.
Semoga Allah menguatkan asa dan keyakinan, dan menjadikanmu seorang imam pilihan. Untukku, ya hanya untukku.
Lewat malam, kuingin berkata padamu. Uraikan segala beban rindu, padamu penopang hidupku.
Pada angin ingin kukatakan, temanilah ia yang sedang tersendirian. Tersesat, berliku mencari jalan. Menyatukan dua jiwa yang terbelah, menjadi harmoni indah, pada satu rangkaian.
Please Angels, send my salaam to him
Tell him, I’m waiting with all of my dreams
Dear,
Ini suratku yang ke-entah. Belum lelah kutuliskan untukmu, meski tak tahu kemana harus dikirimkan. Surat yang belum beralamat.
But I do believe, someday, somehow it will reach you.
From,
Your Future Wifey
Jumat, 20 Maret 2015
Sekejap
rinduku membelah di sepertiga malam
Bersama pecahan-pecahan luka yang melebam
Desir rindu kuat mendekap
Bertarung dingin jiwa dengan pekat
Tuhan,
Dengarlah kidung sumbang keluhan
Irama bernotasi keresahan
Gemericik air doa, usir senyap
Pangkas resahku meski sekejap
Kelu lidah tak kuasa berucap
Tuhan,
Aku ingin Kau dekap
Senandung yang kucipta
Mampukah ia hadirkan cinta-Mu
Leburkan tiap noktah meragu
Tegal, Maret 2015
Bersama pecahan-pecahan luka yang melebam
Desir rindu kuat mendekap
Bertarung dingin jiwa dengan pekat
Tuhan,
Dengarlah kidung sumbang keluhan
Irama bernotasi keresahan
Gemericik air doa, usir senyap
Pangkas resahku meski sekejap
Kelu lidah tak kuasa berucap
Tuhan,
Aku ingin Kau dekap
Senandung yang kucipta
Mampukah ia hadirkan cinta-Mu
Leburkan tiap noktah meragu
Tegal, Maret 2015
Kamis, 05 Maret 2015
Cinta Rindu Doa
Aku tahu, bahwa kau tak ingin melampaui batasan. Sama halnya
aku, tetap setia dengan alasan demikian. Maka disinilah kita, berkawan setia
dengan kesepian. Memuja hening di antara kebisingan.
Ingin kuusik pena rindu, di antara gemericik airair doa yang
mengucur. Ingin kusapa rindu, di tengah nyeri yang membilur. Uhh, bilakah “jeda”
ini akan hancur?
Kupungut resah di antara lelah yang memayah. Segala bentuk
percaya bertemu dengan uji, haruskah?
Wahai gerimis kecil, terdengarkah olehmu aku memanggil? Serak
tangisku di antara gigil. Terpisah dari-nya buatku kerdil.
Aku takkan pernah bertanya tentang makna cinta, karena ia
selalu hadir pada tiap doa di tengah rindu yang kupunya.
Masih kumiliki sebentuk percaya, di tengah-tengah mustahil yang menggurita. Karena cinta 'kan selalu merindukan doa
Minggu, 15 Februari 2015
Rainbow Milk
Seperti biasa, tiap hari Rabu ada variasi kegiatan di sekolah. Kebetulan Rabu kemarin, 10 Februari 2015 jadwalnya sains. Hmm, bingung juga sih mau buat kegiatan apa. Tapi ide yang satu ini layak juga dicoba. Membuat pelangi dari susu, mencoba untuk membuat sesuatu yang agak berbeda dari biasanya.
Tapi anak-anak akan sangat menyukai kegiatan ini. Mereka akan sangat menikmati proses yang terjadi akibat bercampurnya susu, pewarna dan cairan pencuci piring.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. Susu kental manis ( putih )
2. Pewarna makanan ( semakin banyak warna yang digunakan, akan semakin menarik)
3. Cairan pencuci piring ( di sini saya menggunakan sunlight)
4. Cotton buds
5. Mangkok kecil
langkah bermain :
Tuangkan susu kental manis pada mangkok, encerkan dengan sedikit air. Lalu teteskan pewarna makanan pada susu tersebut,jangan diaduk.
ambillah sebuah cotton bud lalu celupkan ke dalam cairan sunlight. Masukkan cotton bud yang telah berlumur sunlight itu ke dalam pewarna tadi. lalu lihatlah apa yang terjadi!! Anak-anak akan merasa amazing. Semakin beragam warna yang kita teteskan, mungkin akan lebih menarik lagi.
Setelah selesai dengan kegiatan ini, hasil campuran susu ini dapat kita gunakan untuk melukis sehingga tidak ada yang terbuang percuma.
Are you interesting? silahkan dicoba
Hasil percobaan, dapat digunakan untuk melukis.

Sabtu, 14 Februari 2015
SURAT UNTUK UMMI-KU
Ummi...
Pertama, ingin kuucapkan berjuta kesyukuran pada Sang Rahman,
bahwa betapa diriku teramat beruntung. Karena dari rahimmu, aku dilahirkan.
Kedua, semoga kau dalam kondisi sehat dan selalu dalam kasih
sayang Allah, sebagaimana akupun teramat sayang padamu.
Ketiga, ingin kukatakan bahwa anakmu ini sangat merindukanmu.
Ternyata tak mudah untuk melalui hari tanpa senyum dan pelukan darimu.
Ummi, di tiap bilangan harimu, aku yakin bahwa ada aku di
embusan nafasmu. Ada namaku di untaian doa dan sujud panjangmu. Aku? Maafkan
Ummi, jika aku sering melalaikanmu.
You treat me like a rose
You give room to grow
You shone the light to love on me
And give me air, so i can breathe
Ummi, dengan cara apa kuharus berterima kasih? Bagaimana ku
membalas cinta dan pengorbananmu.
Tak pernah kau sesal darah yang tlah mengalir, karena itulah
sang mawar berbunga.
Tak kau ungkit peluh yang menetes, sebab itu mawar ini
tumbuh.
Dan tak kau hirau airmata yang tertumpah, asal mawar itu
bermahkota indah.
Ummiiii...kaulah anugerah
Ummiku sayang,
Bening matamu pancaran ketulusan, lembut belaimu simbol
ketegaran dan doa-doamu adalah kekuatan. Lalu, apa lagi yang kuperlukan?
Aku punya Sang Rahman, dan kau...Ummi
Seandainya seluruh dunia menolak dan mengolokku, maka kau-lah
tempatku pulang
Sekiranya dunia menyakitiku, di pangkuanmu-lah aku mengadu
Tiada tempat sedamai dalam pelukanmu
Dan lihatlah Ummi,
Setelah bilangan tahun, mawar yang kau jaga dengan seluruh
nyawamu kini telah merekah
Mencoba menebar harum dari hasil keringat dan cucuran darahmu
Ummi, telah kau jaga kelopak-kelopakku agar tak kering
berguguran
kau tebarkan semerbak harumku, dengan doa-doa yang tak lelah
kau siramkan
Aku bangga menjadi sekuntum mawar di taman hidupmu
Doakan aku Ummi,
Agar kumampu menjaga izzah dan selalu menjadi kebanggaan
Ummiku,
Selamanya aku kan menjadi bunga mawarmu
Mungkin, takkan mampu kulimpahi hidupmu dengan permata
Juga menghadirkan kepadamu isi dunia
Namun kupinta pada Allah untuk selalu menjadi bunga mawarmu
Mawar yang kelak akan tumbuh di taman surga
Menaburi tiap jengkal jalanmu kelak
Mewangikan taman surgamu
Ya Allah, ijinkan aku tuk tumbuh di taman surgamu
Ijinkan aku tuk menjemput Ummiku kelak di surga
Ummi, semoga mampu kusandarkan lagi tubuhku di pelukmu
Dan semoga Allah mengijinkanku tuk merawatmu, layaknya dulu
kau membesarkanku dengan limpahan kasih dan cinta
Itulah doa dan harapanku Ummi,
Semoga Allah selalu mengabulkan doa yang kau panjatkan.
Karena kutahu, di setiap doa yang kau lontarkan ke langit, sudah pasti ada
namaku di sana.
Sabtu, 31 Januari 2015
Cinta atau Gila
This is a real love or stupid feelings?
Ya, berulangkali hatiku bertanya dan tak
pernah kutahu apa jawabnya. Bukankah kini aku harus selalu menikmati senja
sendiri?
Menatap jingga hingga mentari benar-benar
redup. Menggurat cakrawala hingga kelam tiba-tiba menyapa.
Hey, i couldn't stop my feeling anymore.
Still same, since we met at the first
time.
Yang berbeda justru kenyataan. Dahulu dan
sekarang.
Dahulu, aku bisa menatap senyum yang
mengembang tatkala cahaya mulai menyapa dunia. Bersemangat bak kupu-kupu yang
lincah menari di putik bunga. Seakan membuat perayaan bahagia karena tlah
bermetamorfosa.
Dan kini, lambat darahku mengaliri nadi.
Tersumbat nafasku oleh hilang-mu. Putaran detik hanya menyeretku pada kata 'tak
pasti'.
Pada rembulan yang merindukan 'tuk menjadi
purnama. Inilah aku sekarang.
Bagai kuncup yang menantikan semi untuk
mekar, aku pun mengharap kau mendengar.
Bahwa, selama kau masih melihat jingga pada
senja. Maka, kau harus tahu bahwa di lubuk hatiku masih menyimpan cinta.
Pun aku tak terlalu bodoh
untuk mengerti, bahwa jalan ini telah buntu. Segala upaya telah terhenti, namun
entah mengapa rasa ini tak jua mati. Dan mengapa aku masih saja percaya, bahwa
kau pasti kembali.
Lalu, kau boleh bilang...ini cinta atau
gila?
rainy morning, 1215
Langganan:
Postingan (Atom)


