Kamis, 21 Januari 2016

Setiakah


Kau takkan bisa memaksakan kesetiaan seseorang. Seandainya begitu dalam cinta dan ketulusanmu padanya, jika ia memilih untuk tak setia, maka tejadilah. Sebaik dan betapapun kau menghormati dan memberikan setiamu.

Meski kau rela melakukan apapun demi dia, tapi ingatlah, bahwa tak serta-merta ia berlaku begitu padamu.

Mungkin kau akan tetap tinggal di sampingnya, atau kau memintanya untuk tetap tinggal di sampingmu. Tapi jika ia memilih untuk pergi, maka tak ada kuasa bagimu untuk menahannya.

Hal itu berlaku pula untuk dirimu. Apakah kau akan terus di sampingnya dalam berbagai kondisi dan perisitiwa? Atau kau pun memilih pergi dengan berbagai alasan yang kau punyai. Tanpa dia atau orang lain tahu, alasan apa itu.

Tapi ketahuilah, jika itu sungguh benar terjadi padamu. Tunggulah sejenak, cobalah tuk luangkan waktumu untuk menjawab ini jika kau sungguh ingin pergi.

Katakan, jika sekarang kau memilih untuk pergi, mengapa dahulu kau memilih tuk datang?
Jika kini kau ingin berpisah, mengapa dulu kau memutuskan untuk saling bersatu?

@ennie

Sabtu, 12 Desember 2015

Teman yang hilang

Teman yang hilang...

Sepucuk suratku mungkin tak pernah 'kan terbaca olehmu
Seuntai harapku tak jua terlihat olehmu
Dan selaut rinduku tak pernah mengering untukmu

Kau yang kupanggil teman,

Masihkah hatimu serindang dulu
Masihkah senyummu sehangat kala itu

Teman, betapa sesungguhnya aku merindu
Saat kita saling menggenggam jari dan berjalan bersama di masa sulit dulu

Menyusur jalan-jalan terjal yang Tuhan hamparkan di hidup kita
Kala saling berganti mengusap airmata
Memberikan sepasang bahu tuk bersandar, kala mulai lelah
Dan tersenyum riang menertawai segala kebodohan kita

Masih ingatkah, ribuan kilo yang pernah kita tempuh hanya untuk berlari dan sembunyi,
ketika dunia mengusik dan mencaci?
Dan kita berdua saling menguatkan

Lalu dimana masa itu kawan?
Dan, dimanakah kau kawan?

Semua kisah kita terkubur oleh kesalahpahaman

@ennie 5:44 am

Rabu, 02 Desember 2015

Asal-muasal

"Ustadah, cacing terbuat apa?" Tanya Tian dengan wajah penasaran menatapku. Sontak saja aku kaget, namun kututupi dengan wajah kaget yang dibuat-buat. Padahal sejujurnya aku memang benar-benar sedang tak siap menerima pertanyaan tak biasa tersebut.

"Cacing itu terbuat dari tanaman," timpal Alif. Namun Angga langsung membantah dengan jawaban yang makin membuatku harus menahan senyum.
"Cacing itu terbuat dari makanan!" Katanya.

Anak-anak itu menatapku, seakan menunggu penjelasan. Yah, bagi anak-anak kecil, orang dewasa terutama orangtua apalagi guru dianggap tahu segalanya.

Padahal, justru orang-orang dewasa terkadang sering "mati kutu" saat harus berhadapan dengan pertanyaan polos dan simpel dari anak-anak.
Secara teori, jika dibandingkan besar versus kecil, maka sudah pastilah besar akan menang dan menguasai segalanya.

Tapi tidak ketika kita menghadapi anak kecil, apalagi jika usianya masih balita. Secara psikis dan emosi belum terkendali. Dan tak kalah seringnya, celoteh, ucapan dan pertanyaan-pertanyaan mereka membuat kita seperti cacing kepanasan.
Ketahuilah bahwa pertanyaan anak-anak itu wajib sekali hukumnya dijawab.

Selasa, 14 Juli 2015

Senandung Doa

Dear Allah,



Kini Kau tlah hadirkan seseorang dari sisi-Mu

Seseorang yang akan...

Menggenapi separuh Dien-ku

Mendampingi langkahku kelak



Seseorang yang dengannya, aku akan..

Membariskan ketaatan bersama

Membingkai kasih dalam balutan Mahabbah-Mu

Saling menggenggam tuk mencari keridhoan



Wahai Pemilik Kalbu,

Jagalah hati dan jiwa kami untuk selalu mengingat-Mu

Kuatkan jejak langkah kami menyusuri tangga ridho-Mu



Karena kami tahu,

Akan banyak langkah yang terseok

Niat yang tak sejatinya murni

Dan laku yang tak Kau ridhoi



Namun,

Pada-Mulah kembali segala urusan

Maka kekalkanlah pertemuan kami

Sejatikan rindu kami

Hingga di penghujung hari



Satukan kami kembali,

di naungan jannah-Mu, kelak.

Kamis, 18 Juni 2015

Gosong, Kakaaa

Seharian nomor +622130069795 menghubungiku berkali-kali. Dilihat sepertinya sih nomor dari Jakarta ya, dilihat dari kode areanya.

Penasaran juga, barangkali itu nomor teman atau saudara. Ah, tapi kalau memang dia ada kepentingan pasti menelponku lagi.



Benar juga, sekitar pukul 4 sore nomor itu kembali menelpon.



"Hallo selamat sore, ini dengan Maha...(gak tau nama lengkapnya tadi). Bisa bicara dengan ibu Qurotul Aeni?"



"Ya..."



"Maha dari .....reka mandiri bisa minta waktu sebentar?"



"Oke..." jawabku



Dan, bla..bla..bla...

Ahh, ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal begini. Ujung-ujungnya modus penipuan biasanya.



Dan ketika dia berbicara ke intinya, "Bagaimana Ibu..?"



Mendadak saja, aku mencium bau menyengat dari belakang.



"Gosoongg..goossonngggg..."



"Buu...Ibuu, bagaimana?"



"Maaf gosong!"



Klikkk.

Kamis, 28 Mei 2015

Tunggulah

kalau ada yang bertanya, aku mencintainya atau tidak. Maka jawabku adalah, "entah".

Sungguh, aku pun tak tahu. Seperti halnya tumbuhan, bukan sehari ia butuh waktu untuk bisa tumbuh besar, berbatang kokoh, berdahan rindang, berbunga lalu berbuah.

Bukankah awalnya, ia hanya sebutir benih? Dan sebelum disemai dibutuhkan waktu untuk menggemburkan tanah. Lalu ditanam, dipupuk, dan disiram. Setelah itu dirawat, disiangi dari gulma.



Berhari, berminggu hingga berbulan ia akan muncul tunas lalu perlahan tumbuh. Dan sekarang, ia menjadi sebuah pohon besar yang rindang dan berbuah lebat. Mudahnya, anggap itu sebagai sebuah perasaan cinta. Cintaku tidak mudah tumbuh dan tiba-tiba menjadi rindang begitu saja. Hatiku tidak memproduksi perasaan cinta dengan tiba-tiba. Butuh waktu. It's just a matter of time, i'm sure. Perlahan saja, bersabarlah. Yah, kau pasti khawatir itu wajar saja. Jangan kau merasa bahwa cintamu hanya bertepuk sebelah tangan saja. Please don't worry.



Perbesar saja rasa cintamu, aku kan mampu merasainya. Perkuat saja yakinmu, aku kan mampu merabanya. Sungguh, tiada yang kuragu dari dirimu ini hanya tentang sedikit waktu.

Biar cintaku tumbuh dengan sendirinya, biar ia merindang dan berbunga selayaknya. Tepat pada waktunya dan indah pada musimnya. Usah risau tentang rasamu yang belum berbalas, mungkin belum saatnya ia memetik kuncup. Tunggulah sekejap sampai kuncup-kuncup bermekaran. Sekalian mampu kau hirup jua harumnya.

Lalu kau kan melihat sebuah bunga mekar bermahkota indah nan harum. Tepat pada masanya, bersemi pada musimnya.



Itulah cintaku, dear.



29 Mei 2015, 12:43 am

Rabu, 27 Mei 2015

Senja Berpulang

Apa yang kau tahu tentang senja?



Bagiku, ia bukan sekedar mentari yang kelelahan dan bersiap 'tuk sembunyi dari balik selimut cakrawala. Bukan pula tentang semburat jingga yang terlukis di langit. Ia bagiku merupakan kumpulan-kumpulan rindu yang terlantar.



Aku sendiri tak terlalu mengerti, mengapa teramat mencintai senja. Padahal terkadang ia hanya membuat sesak saja. Sebab, hanya karena menunggumu, aku tak pernah sekalipun melewatkan kepergian senja. Sesekali berharap, ketika senja berpulang saat itulah kau tiba-tiba datang.



Itu hanya sebuah ingin, nyatanya penantian padamu terkadang membuatku terkapar. Entahlah di samudera yang mana kau sedang terdampar. Aku di sini hanya mampu meneriaki camar-camar yang beranjak pulang ke peraduan.



Di reriuh debur ombak itu, mampukah kau dengar teriak-ku?

Angin laut dan ombak pun menyatu, saling bersisian berlari mengantarkan kepergian senja. Lihat, dunia kian temaram. Namun tak se-temaram hatiku, yang kian mengabut pilu.



Mentari 'tlah berpulang sekarang, penuh rasa bangga mampu memberi cahaya pada dunia.

Dan kepulangan senja pun seakan mengiringi pula "kepergian"mu selamanya dari hidupku. Inikah mau-mu?



Sekarang, senja boleh saja pergi. Namun ia pasti 'kan datang lagi esok hari. Tetapi kau?



Bilakah masanya kau kan kembali lagi di hidupku?

Pada bilangan senja yang keberapa, kau 'kan kembali hadir dan melukiskan rona jingga pada hidupku?



Ataukah, kau hanya akan menjadi malam selamanya? Suguhkan pekat di hari-hariku. Tinggalkan temaram di hatiku dan sisakan airmata di hidupku.



Untuk kau yang takkan pernah kembali, aku hanya mampu menatap senja sore ini. Menggurat wajahmu pada mega, bisikkan namamu di embusan lemah bayu. Dan berkata, "Aku 'kan selalu merindu".



Kini senja 'tlah berpulang sayang, namun wajahmu takkan pernah terbenam.


27 Mei 2015