Aku
sempurna menangis saat matahari sempurna merekah. Kupandangi bias
cahayanya di bibir pantai, warna kuning jingganya memantul indah di atas
permukaan laut.
Riak-riak kecil seakan susul-menyusul mengejarku,
membasahi ujung celana yang memang sengaja tidak kulipat. Lenguhan
panjang satu dua camar terasa menyayat hati seakan ingin bergabung
dengan ritual kesedihan yang sedang kulakukan.
Aku benar-benar tenggelam di lautan kesedihan pagi ini.
Tak ada lagi ucapan selamat datang pagi, seperti yang biasa kuteriakkan
kala melihat sang mentari muncul dari peraduannya. Tak juga kuteriakkan
selamat pagi dunia seperti biasanya. Tidak, karena dunia telah sempurna
merenggut segala kebahagiaanku. Kebahagiaan yang benar-benar
kubanggakan selama hampir 5 tahun ini.
Kutatap garis cakrawala,
pikiranku mengambang. Entahlah. Ini adalah sunrise pertama yang kulihat
setelah lebih dari setahun. Selama setahun ini aku tak berani menatap
pagi, menikmati sunrise ataupun menyambut pagi. Aku sangat membencinya!
Ini tentang kehilangan, penyesalan dan kesedihan. Enam bulan tlah
kulewati masa-masa itu, tapi lihatlah waktu belum memberi kemajuan
apapun padaku. Aku masih sama seperti di awal Elang pergi. Aku terpuruk.
Lima belas menit berlalu, aku masih terisak. Dadaku perih bergetar,
kupaksakan untuk berhenti dari semua sedan tapi percuma. Bibirku malah
sempurna lirih berucap, Elang.
Aku tak tahan lagi, kuteriakkan
nama Elang sekuat tenaga. Tak peduli pada tatapan mata yang mengarah
padaku. Suaraku serak, mata sembab menghiasi wajah yang mungkin terlihat
pias. Ini bukan hari libur, hingga tak terlalu banyak pengunjung yang
datang untuk melihat sunrise pagi ini. Seandainya pun disini ramai, aku
tetap takkan peduli. Akan terus berteriak, dan mencaci semua sampai aku
puas. Meski semua itu takkan cukup dan tak membuatku puas, dan yang
paling penting tak akan pernah membuat Elang kembali.
Mentari
kian meninggi beberapa senti dari garis cakrawala. Panas mulai mencubiti
pipiku. Bahkan separuh badanku sudah basah oleh air laut, ujung-ujung
jariku pun mulai mengkerut terlalu lama berendam dengan air laut yang
sebenarnya dingin.
Angin laut pun riang memainkan ujung jilbab
hijauku yang pasti kotor terkena pasir saat aku jatuh terisak tadi. Tak
ada lagi tangan yang menuntun untuk segera bangkit saat kuterjatuh.
Tiada lagi yang beradu dengan suara ombak sambil meneriakkan namaku. Tak
ada dan takkan pernah ada lagi. Elang telah benar-benar terbang dan
sempurna pergi dari hidupku. Seperti yang pernah diucapkan dulu dan
kupikir itu hanya lelucon saja.
"Ah, kenapa namamu Elang. Memangnya kamu punya sayap, bisa terbang?" Itulah yang selalu kukatakan untuk mengejekmu.
"Lihat saja, kalau nanti aku benar-benar terbang kamu pasti menangis kehilangan, haha."
"Gak akan!" Ucapku
Tapi lihatlah kini, aku hampir setengah gila kehilangan dia. Sesak
setengah hidup merindu. Elang, pulanglah. Kau keterlaluan, terlalu lama
tinggalkan aku sendirian. Janjimu padaku banyak yang belum terpenuhi,
katamu kau akan selalu tepati seluruh janji. Kumohon, kembalilah segera!
Kuteriakkan namamu sekali lagi, hanya berbalas suara deburan ombak yang kandas menabrak karang. Aku masih menangis.
Theres nothing I wouldnt do
To hear your voice again
Sometimes i wanna call you
But I know you wont be there
*Hurt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar