Jumat, 13 Juni 2014

Saat Elang Pergi

Aku sempurna menangis saat matahari sempurna merekah. Kupandangi bias cahayanya di bibir pantai, warna kuning jingganya memantul indah di atas permukaan laut.
Riak-riak kecil seakan susul-menyusul mengejarku, membasahi ujung celana yang memang sengaja tidak kulipat. Lenguhan panjang satu dua camar terasa menyayat hati seakan ingin bergabung dengan ritual kesedihan yang sedang kulakukan.

Aku benar-benar tenggelam di lautan kesedihan pagi ini.
Tak ada lagi ucapan selamat datang pagi, seperti yang biasa kuteriakkan kala melihat sang mentari muncul dari peraduannya. Tak juga kuteriakkan selamat pagi dunia seperti biasanya. Tidak, karena dunia telah sempurna merenggut segala kebahagiaanku. Kebahagiaan yang benar-benar kubanggakan selama hampir 5 tahun ini.

Kutatap garis cakrawala, pikiranku mengambang. Entahlah. Ini adalah sunrise pertama yang kulihat setelah lebih dari setahun. Selama setahun ini aku tak berani menatap pagi, menikmati sunrise ataupun menyambut pagi. Aku sangat membencinya!

Ini tentang kehilangan, penyesalan dan kesedihan. Enam bulan tlah kulewati masa-masa itu, tapi lihatlah waktu belum memberi kemajuan apapun padaku. Aku masih sama seperti di awal Elang pergi. Aku terpuruk.

Lima belas menit berlalu, aku masih terisak. Dadaku perih bergetar, kupaksakan untuk berhenti dari semua sedan tapi percuma. Bibirku malah sempurna lirih berucap, Elang.

Aku tak tahan lagi, kuteriakkan nama Elang sekuat tenaga. Tak peduli pada tatapan mata yang mengarah padaku. Suaraku serak, mata sembab menghiasi wajah yang mungkin terlihat pias. Ini bukan hari libur, hingga tak terlalu banyak pengunjung yang datang untuk melihat sunrise pagi ini. Seandainya pun disini ramai, aku tetap takkan peduli. Akan terus berteriak, dan mencaci semua sampai aku puas. Meski semua itu takkan cukup dan tak membuatku puas, dan yang paling penting tak akan pernah membuat Elang kembali.

Mentari kian meninggi beberapa senti dari garis cakrawala. Panas mulai mencubiti pipiku. Bahkan separuh badanku sudah basah oleh air laut, ujung-ujung jariku pun mulai mengkerut terlalu lama berendam dengan air laut yang sebenarnya dingin.

Angin laut pun riang memainkan ujung jilbab hijauku yang pasti kotor terkena pasir saat aku jatuh terisak tadi. Tak ada lagi tangan yang menuntun untuk segera bangkit saat kuterjatuh.
Tiada lagi yang beradu dengan suara ombak sambil meneriakkan namaku. Tak ada dan takkan pernah ada lagi. Elang telah benar-benar terbang dan sempurna pergi dari hidupku. Seperti yang pernah diucapkan dulu dan kupikir itu hanya lelucon saja.

"Ah, kenapa namamu Elang. Memangnya kamu punya sayap, bisa terbang?" Itulah yang selalu kukatakan untuk mengejekmu.
"Lihat saja, kalau nanti aku benar-benar terbang kamu pasti menangis kehilangan, haha."
"Gak akan!" Ucapku

Tapi lihatlah kini, aku hampir setengah gila kehilangan dia. Sesak setengah hidup merindu. Elang, pulanglah. Kau keterlaluan, terlalu lama tinggalkan aku sendirian. Janjimu padaku banyak yang belum terpenuhi, katamu kau akan selalu tepati seluruh janji. Kumohon, kembalilah segera!
Kuteriakkan namamu sekali lagi, hanya berbalas suara deburan ombak yang kandas menabrak karang. Aku masih menangis.

Theres nothing I wouldnt do
To hear your voice again
Sometimes i wanna call you
But I know you wont be there
*Hurt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar