Lihatlah aku kini, terseok
menyusuri rel-rel kenangan. Merintih rindu, memapah pilu. Sendirian.
Tak mungkin kutahan laju kereta yang bergerak. Hingga ku tertinggal pada stasiun kenang,
memeluk luka.
Dan, sepeninggalmu kini, hanya
tersisa bangku-bangku kosong dalam gerbong hati yang kusinggahi. Sepi.
Semua kisah ini ternyata harus menemui
ajalnya, dan berakhir hanya pada lambaian tangan. Senyummu yang sekilas-sekilas mengguyur lebat
hatiku. Langit hadirkan rinai, sisakan genangan di hati yang perlahan berlubang.
Inikah perpisahan?
Entah mengapa, di tiap lajur perjalanan ini aku seakan ingin
mengulang, kisah yang telah kita tamatkan. Dan bayangmu, menyisakan sudut
kenang yang berlinang, kemudian.
22:23, 161114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar