Jumat, 21 November 2014

Stasiun Kenang



Lihatlah aku kini, terseok menyusuri rel-rel kenangan. Merintih rindu, memapah pilu. Sendirian.
Tak mungkin kutahan laju kereta yang bergerak.  Hingga ku tertinggal pada stasiun kenang, memeluk luka.
Dan, sepeninggalmu kini, hanya tersisa bangku-bangku kosong dalam gerbong hati yang kusinggahi. Sepi.
Semua kisah ini ternyata harus menemui ajalnya, dan berakhir hanya pada lambaian tangan.  Senyummu yang sekilas-sekilas mengguyur lebat hatiku. Langit hadirkan rinai, sisakan genangan di hati yang perlahan berlubang. Inikah perpisahan?
Entah mengapa, di tiap lajur perjalanan ini aku seakan ingin mengulang, kisah yang telah kita tamatkan. Dan bayangmu, menyisakan sudut kenang yang berlinang, kemudian.

22:23, 161114

Tidak ada komentar:

Posting Komentar