Teruntuk kau, yang bayangnya masih saja singgah di benak.
Dengarkan ini, sulit bagiku ‘tuk mengenyahkan hadirmu dari otakku. Padahal aku menyadari terlalu sulit untuk menujumu, atau mungkin
saja takkan pernah kutemukan jalannya.
Aku tak keras kepala untuk mengejarmu, sungguh. Bahkan kalau
saja bisa, aku ingin mengosongkan hati dan pikiran ini dari segala bentuk yang
bernama ‘kamu’. Tapi entah mengapa, namamu seakan betah tinggal di hatiku.
Begitupun bayanganmu.
Hmm, sulit bagiku untuk tidak mengingatmu daripada
mengingatmu. Haha, aku payah bukan?
Aku selalu memindai hati dan pikiranku, dan mengapa selalu
saja kutemukan sebuah virus berupa namamu. Aku sudah terlalu kejam pada diriku
sendiri, berupaya mati-matian untuk “killed you”. Tapi?
Jangan-jangan kau pun sama, mengurung namaku di sangkar
hatimu. Ah, sudahlah itu hanya gambaran bodohku saja. Lagipula siapa aku,
begitu spesial di hatimu. Banyak bunga yang beraroma semerbak yang akan menawan
hatimu kelak.
Terus aku bagaimana? Haruskah masih saja merawat nama,
memupuk bayangmu di ladang hatiku? Bagaimana bila cinta ini takkan berbuah?
Masih mampukah aku nantinya untuk berpijak di tanah?
Terlalu sulit bagiku untuk mendekatimu,
Maka, kuputuskan untuk lebih dulumendekati-Nya
Tegal, 2115
Tidak ada komentar:
Posting Komentar