Jumat, 02 Januari 2015

Dekati Dia



Teruntuk kau, yang bayangnya masih saja singgah di benak. Dengarkan ini, sulit bagiku ‘tuk mengenyahkan hadirmu dari  otakku. Padahal aku menyadari  terlalu sulit untuk menujumu, atau mungkin saja takkan pernah kutemukan jalannya.

Aku tak keras kepala untuk mengejarmu, sungguh. Bahkan kalau saja bisa, aku ingin mengosongkan hati dan pikiran ini dari segala bentuk yang bernama ‘kamu’. Tapi entah mengapa, namamu seakan betah tinggal di hatiku. Begitupun bayanganmu.

Hmm, sulit bagiku untuk tidak mengingatmu daripada mengingatmu. Haha, aku payah bukan?
Aku selalu memindai hati dan pikiranku, dan mengapa selalu saja kutemukan sebuah virus berupa namamu. Aku sudah terlalu kejam pada diriku sendiri, berupaya mati-matian untuk “killed you”. Tapi?

Jangan-jangan kau pun sama, mengurung namaku di sangkar hatimu. Ah, sudahlah itu hanya gambaran bodohku saja. Lagipula siapa aku, begitu spesial di hatimu. Banyak bunga yang beraroma semerbak yang akan menawan hatimu kelak.

Terus aku bagaimana? Haruskah masih saja merawat nama, memupuk bayangmu di ladang hatiku? Bagaimana bila cinta ini takkan berbuah? Masih mampukah aku nantinya untuk berpijak di tanah?

Terlalu sulit bagiku untuk mendekatimu,
Maka, kuputuskan untuk lebih dulumendekati-Nya

Tegal, 2115

Tidak ada komentar:

Posting Komentar