Senin, 07 Juli 2014

Deteksi Dini Pada Jomblo(ers)



Khususon untuk yang jomblo aja yaa, selain jomblo dilarang baca!
Bagi kamu jomblowan dan jombloningsih, ada baiknya cek dulu kadar “kejombloan” kamu nih. Siapa tahu kamu terdiagnosis penyakit jomblo akut apalagi jomblo pikun. Bahaya kan?
Simak nih guys, 

Ciri-ciri jomblo sirik: Tiap malam minggu markir mobilnya di jalan raya, biar orang-orang yang lagi pacaran di mobil kena macet.
Jomblo visioner: Sudah bikin daftar tempat malam mingguan kalau suatu saat nanti dia punya pacar.
Ciri-ciri jomblo ngarep: Tiap nonton film beli tiket selalu dua, katanya, “Jaga-jaga siapa tau sebelom nonton, ada yang ngajak jadian.”
Jomblo tajir: Tiap malam minggu ke bioskop beli semua kursi biar yang pacaran gak bisa nonton bareng.
Jomblo ambisius salah gaul: Jomblo yang dari kecil belajar ekstra keras agar bisa bikin mesin waktu demi melewati malam minggu.
Jomblo dengki: Tiap malam minggu ke mall, nyari orang pacaran yang gandengan tangan, lalu teriak di depan mereka, “AKUU SAKITTTT!”
Ciri jomblo akut: Tiap ditanya “Punya pacar gak?” dia selalu jawab, “Pacar? Apa itu pacar?”
Jomblo dilematis: Ada yang ditaksir eh punya pacar, ada yang ga punya pacar eh gak cakep, ada yg ditaksir, cakep, ga punya pacar, ehh.. orangnya gak mau. Plakk!
Jomblo ngenes : Yang tiap bangun tidur gak ada yang ngirim pesan selamat pagi di handphonenya.
Jomblo labil : Yang tiap hari ganti nama profil,”Akualwayslopeyupolepeelmnantimuuntiltheendoftime”. Hiihi.
Jomblo maksa : Yang ngefans sama Oppie Andaresta karena lagunya I’m single and very happy.
Jomblo pikun : Yang sering pura-pura salah kirim biar ada yang diajak SMSan.
Jomblo gagal move on : Stalkingin profil melulu
Upps, jangan manyun dong bacanya mbloo..
Masuk kategori manakah kamu??
Jangan saling mencela ya, ini Cuma buat fun aja kok. Oya, ada satu lagi nih kategori jomblo yang kelewat.
Jomblo bermartabat : itu akuuu
#kaburrrr

Senandung Pilu dari Gaza



Aku menantimu dari balik jendela
Diantara gerimis yang tak kunjung mereda

Kumasih menunggumu datang
Menatap kosong ke arah jalanan
Adakah kau diantara hiruk-pikuk keramaian
Namun  tak kunjung kau datang
Kemanakah kau bocah kecilku sayang

Lalu kutersedak oleh pahitnya kenyataan
Bahwa kau tlah dimakamkan kemarin siang
Nyawamu melayang di ujung senapan
Permataku takkan pernah pulang

Tiada lagi celotehmu diantara makan malam
Lenyap merdumu kala menyenandungkan kalam
Tak mungkin lagi memelukmu hingga terpejam
Mereka merampas separuh nyawaku dengan kejam

Mereka bilang kenangan ibarat emas
Aku tak inginkan itu
Aku hanya inginkan kehadiran bola mataku
Memeluk dan sirnakan sgala cemas

Oh, tapi cinta saja tak bisa menjagamu
Hingga kau harus diterjang peluru
Para serdadu budak nafsu
Oh, malaikat kecilku, betapa ibu rindu

Seandainya tiap tetes airmata dapat menjadi tangga
Dan segala rasa sakit hatiku menjadi titian
Maka akan kulalui jalan itu menuju surga
Membawa bocah kecilku kembali pulang dalam pelukan

7714

Minggu, 06 Juli 2014

Sadari..



Sadari bahwa, hidup tak selalu bahagia
Ada sakit yang perlu  dirasai dalam kehidupan

Pahami bahwa, adakalanya cinta tak selalu menang
Pengkhianatan, dusta dan ambisi terkadang sanggup mengalahkan

Yakini bahwa, semua mimpi takkan slalu terwujud
Meski tinggal selangkah lagi meraihnya
Tiba-tiba ia hancur saja tanpa pernah tahu apa sebab

Terima bahwa, kehilangan adalah suatu niscaya
Tak bisa diundur barang sedetik saja

Ketahui bahwa, sabar tak slalu menghadirkan keindahan pada akhirnya
Tapi ia kan memberikan buah yang manis saat kau tak menyadari

Kau tahu, musim tak selamanya berganti
Terkadang kemarau panas setia mengiringi, tetiba hujan mengawali 

Pun hidup ini, tak selamanya kesedihan yang kau rasakan segera berganti dengan kebahagiaan. Adakalanya butuh waktu menahun ia menemanimu. Apakah itu tanda Tuhan tak sayang atau sedang menguji, namun ada yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup. Itu pasti. Sekarang  hanya ada dua pilihan menjalaninya, lalui saja meski penuh airmata. Atau akhiri saja hidupmu dengan sia-sia.

Jumat, 04 Juli 2014

Sekilas cerita piket kemarin

Aku sempat kagum dengan seorang ibu kemarin. Dia datang ke sekolahku, bermaksud untuk mendaftarkan anaknya. Saat itu sekolah sepi, hanya ada aku dan dua orang temanku yang kebetulan sedang giliran piket.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Saya mau ndaftar Bu,"
"Hmm, maaf mendaftar apa ya Bu?" Tanyaku

Karena kebetulan sekolahku pun sedang membutuhkan guru baru. Tapi maaf, kalau dilihat dari sudut penampilan kayaknya sih gak mungkin. Hehe
"Saya mau mendaftar sekolah untuk anak saya." Ujarnya
"Oh maaf, kalau itu sudah tutup sejak bulan Maret. Anak-anak baru sudah tinggal berangkat saja Bu, disini pendaftaran lebih awal dari sekolah lainnya." Kucoba untuk menjelaskan
"Atau Ibu mau mendaftar di sekolah kami yang satunya, tempatnya lebih strategis di tengah kota. Kalau sekarang, pendaftaran masih di buka."
"Wah, terlalu jauh itu Mbak."

Setelah kutanya, rumah beliau memang cukup jauh dari tempat kami. Jarak rumahnya sampai sekolah ini sekitar setengah jam perjalanan lebih dengan jalan yang amat menantang. Kenapa aku bisa tahu, karena setiap minggu aku kuliah di tempat yang sama dengan tempat tinggalnya.
Masya Allaah. orang kok niat banget datang kemari hanya demi menyekolahkan anaknya yang masih kecil. Hanya sekolah TK, dan sekolahku juga terbilang cukup mahal dari biayanya.
Orangtua sekarang memang hebat, ingin yang terbaik untuk anaknya. Ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik untuk anaknya, meski harus rela berkorban banyak. Untuk seorang Ibu yang aku tak tahu namanya.

Jumat, 13 Juni 2014

Info Lomba Menulis Novel



Saya sih tetap setia sama The Doctor VR46. Lihat saja, dia udah come back. Ya sih, di Qatar kemarian, dia ngalah aja sama Marquez. Adiknya, ngalah sesekali kan nggak apa-apa atuh. Membayangkan menjadi bagian dari penonton helatan MotoGP, dapat atmosfir suara knalpot, racing line, slinding, latest breaking, dan bisa jepret-jepret para rider idola, di Sepang Malaysia. WOW



Pengin?
Gratis lagi?
Sekalian sama passport-nya jika belum punya.
Yuk ikutan lomba gila ini. What a love is it!
Ada tiga seat  nih disediakan buat kalian….

****
Lomba ini adalah lomba menulis novel pribadi (personal), bukan rame-rame. Terbuka untuk umum segala usia. Perhatikan ketentuan-ketentuannya ini:

Syarat teknis:
1. Karakter naskah novel umum (fantasi tidak  disertakan dulu di sini). Segmen teenlit atau young adult (pilih salah satu). Tidak mengandung SARA. Tidak boleh ada plagiasi sedikit pun, apalagi banyak pun. Temanya romantik atau inspiratif atau tentang kehidupan asalkan ditujukan untuk pembaca muda.
2. Gunakan gaya bahasa yang easy reading. Penyajian ringan. Perhatikan, novelmu harus memuat nilai-nilai inspiratif di dalamnya. Tentu dengan style novel, bukan kultum.
3. Keunikan idemu akan sangat diperhatikan. So, jangan ambil ide yang jadul. Harus mengambil setting luar negeri. Kekuatan kearifan lokal negara asing yang jadi setting-mu sangat penting. Pilihlah setting yang unik, tidak pasaran. So, perhatikan detail setting novelmu.
4. Lomba ini berlaku hanya dari tanggal 15 April 2014-15 Juli 2014.
5. 1 orang hanya boleh mengirim 1 naskah. Tulisan diketik dengan font Times New Roman ukuran  12 pts spasi ganda (spasi 2), antara 200-300 halaman (sudah termasuk biodata dan alamat lengkapmu + sinopsis ceritanya). Ukuran kertas A4 dengan page setup: 4 – 3 – 4 – 3 cm (kiri-kanan-atas-bawah).
6. Kirim novelmu ke email: novelmotogp2014.divapress@gmail.com dengan subjek #NovelMotoGP2014.
7. Badan email dibiarkan kosong. File tulisanmu diattach.
8. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Penerbit DIVA Press dan follow Twitter @divapress01 @edi_akhiles @de_teens
9. Buat status di wall FB kami dan tweet yang isinya “Saya udah kirim novel tuk lomba #MotoGPSepang janji nggak bobok cc @divapress01 @de_teens @edi_akhiles @KampusFiksi”

Penjurian:
1. Penjurian akan dilakukan maksimal 60 hari hari setelah penerimaan naskah terakhir.
2. Juri akan memilih 3 novel terbaik dengan hadiah sertifikat + free nobar live MotoGP 2014 langsung di Sepang Malaysia + paket buku. 3 novel terbaik tersebut akan pula mendapatkan MoU profesional untuk penerbitannya + kesempatan menulis 1 novel lagi dengan pola bimbingan untuk kami terbitkan selanjutnya. Selain 3 terbaik itu, kami pun akan memilih novel-novel yang baik tapi belum lolos 3 besar untuk kami terbitkan dengan MoU profesional pula.
3. Semua naskah yang dikirimkan otomatis kami anggap bersetuju untuk diterbitkan dengan ketentuan tersebut. Naskah yang dikirimkan tidak boleh sedang diikutkan lomba lain, atau terikat dengan pihak lain, atau pernah dipublikasikan, termasuk di sosmed seperti blog atau FB.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
5. Hadiah nobar tersebut tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau pun diuangkan.
6. Semoga yang lolos lomba #NovelMotoGP2014 ini, jika masih jomblo segera mendapatkan kekasih. Jika sudah pacaran, semoga segera dilamar. Jika sudah dilamar, semoga segera dinikahin. Jika sudah dinikahin, semoga segera dikarunia anak yang shalih/shalihah. O ya, nyaris lupa, jika sedang LDR-an, semoga segera disatukan di dunia nyata, bukan maya (doa tulus kami senantiasa tercurah untuk kalian).

Tunggu apa lagi? Tips aja nih, berhentilah jadi DL-er, karena itu nggak memberimu waktu cukup untuk self editing sehingga sulit untuk bersaing.

Saat Elang Pergi

Aku sempurna menangis saat matahari sempurna merekah. Kupandangi bias cahayanya di bibir pantai, warna kuning jingganya memantul indah di atas permukaan laut.
Riak-riak kecil seakan susul-menyusul mengejarku, membasahi ujung celana yang memang sengaja tidak kulipat. Lenguhan panjang satu dua camar terasa menyayat hati seakan ingin bergabung dengan ritual kesedihan yang sedang kulakukan.

Aku benar-benar tenggelam di lautan kesedihan pagi ini.
Tak ada lagi ucapan selamat datang pagi, seperti yang biasa kuteriakkan kala melihat sang mentari muncul dari peraduannya. Tak juga kuteriakkan selamat pagi dunia seperti biasanya. Tidak, karena dunia telah sempurna merenggut segala kebahagiaanku. Kebahagiaan yang benar-benar kubanggakan selama hampir 5 tahun ini.

Kutatap garis cakrawala, pikiranku mengambang. Entahlah. Ini adalah sunrise pertama yang kulihat setelah lebih dari setahun. Selama setahun ini aku tak berani menatap pagi, menikmati sunrise ataupun menyambut pagi. Aku sangat membencinya!

Ini tentang kehilangan, penyesalan dan kesedihan. Enam bulan tlah kulewati masa-masa itu, tapi lihatlah waktu belum memberi kemajuan apapun padaku. Aku masih sama seperti di awal Elang pergi. Aku terpuruk.

Lima belas menit berlalu, aku masih terisak. Dadaku perih bergetar, kupaksakan untuk berhenti dari semua sedan tapi percuma. Bibirku malah sempurna lirih berucap, Elang.

Aku tak tahan lagi, kuteriakkan nama Elang sekuat tenaga. Tak peduli pada tatapan mata yang mengarah padaku. Suaraku serak, mata sembab menghiasi wajah yang mungkin terlihat pias. Ini bukan hari libur, hingga tak terlalu banyak pengunjung yang datang untuk melihat sunrise pagi ini. Seandainya pun disini ramai, aku tetap takkan peduli. Akan terus berteriak, dan mencaci semua sampai aku puas. Meski semua itu takkan cukup dan tak membuatku puas, dan yang paling penting tak akan pernah membuat Elang kembali.

Mentari kian meninggi beberapa senti dari garis cakrawala. Panas mulai mencubiti pipiku. Bahkan separuh badanku sudah basah oleh air laut, ujung-ujung jariku pun mulai mengkerut terlalu lama berendam dengan air laut yang sebenarnya dingin.

Angin laut pun riang memainkan ujung jilbab hijauku yang pasti kotor terkena pasir saat aku jatuh terisak tadi. Tak ada lagi tangan yang menuntun untuk segera bangkit saat kuterjatuh.
Tiada lagi yang beradu dengan suara ombak sambil meneriakkan namaku. Tak ada dan takkan pernah ada lagi. Elang telah benar-benar terbang dan sempurna pergi dari hidupku. Seperti yang pernah diucapkan dulu dan kupikir itu hanya lelucon saja.

"Ah, kenapa namamu Elang. Memangnya kamu punya sayap, bisa terbang?" Itulah yang selalu kukatakan untuk mengejekmu.
"Lihat saja, kalau nanti aku benar-benar terbang kamu pasti menangis kehilangan, haha."
"Gak akan!" Ucapku

Tapi lihatlah kini, aku hampir setengah gila kehilangan dia. Sesak setengah hidup merindu. Elang, pulanglah. Kau keterlaluan, terlalu lama tinggalkan aku sendirian. Janjimu padaku banyak yang belum terpenuhi, katamu kau akan selalu tepati seluruh janji. Kumohon, kembalilah segera!
Kuteriakkan namamu sekali lagi, hanya berbalas suara deburan ombak yang kandas menabrak karang. Aku masih menangis.

Theres nothing I wouldnt do
To hear your voice again
Sometimes i wanna call you
But I know you wont be there
*Hurt

Juni dan Hujan

malam ini,
biarkan aku menulis di atas kanvas
tuk remukkan hati yang kini seperti cadas
sesapi bilur luka pahit yang membekas
biarlah menepi bersama asa yang tlah kandas

lagi,
aku berdansa memeluk hujan
menangisi tiap rinainya di penghujung malam
Juni, mengapa kau hampiriku dengan kesedihan
tidakkah kau lihat aku tlah kelelahan?

rerimbun kamboja teduhi seulas senyuman
terhampar tanah merah basah membalut sang pemiliknya
sementara aku berteman hujan memeluk pusaranya
di sebuah penghujung Juni



7 Juni 20:16