Anak-anak Karbitan (Copy dari rumah
inspirasi.com)
June 19, 2010 by Aar 54 Comments
Hari ini menemukan artikel lama yang menarik. Mudah-mudahan bermanfaat untuk
refleksi kita semua sebagai orangtua. Artikel ini ditulis oleh Dewi Utama
Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari
Indonesia Heritage Foundation.
Berikut ini artikel selengkapnya:
Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu…
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana
orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang
ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan
yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga
ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai
tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari
yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat
membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga
fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia
pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran
yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua …
Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun
apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet
dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia
dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan
pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping
ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!
Anak-Anak Yang Digegas…
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap anak.
Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual
secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran
intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam
pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam
dan di luar sekolah. Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar
karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College
walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan
banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa.
Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan terkemuka,
pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah
William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang
banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.
Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada
seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, di mana seorang
Ibu yang bernama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan
lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si
anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan
suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan
menggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu
bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun
Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith
telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca
enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk
universitas. Ketika usianya menginjak 15 tahun la menjadi guru matematika di
Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius
karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga.
Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.
Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu
yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Berbeda
dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang
dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa
yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu.
Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD.
Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. Selama berpuluh-puluh tahun
orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh
faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada
berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk
melakukan “Early Childhood Training”. Era pemberdayaan otak mencapai masa
keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak
mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan
muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara
fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja.
Ketidakseimbangan
dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah
sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang di mana-mana, di Indonesia.
“Early Ripe, early Rot…!”
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di
Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan
bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera
mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka
mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka
memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-kanak (Pra
Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang
masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan
membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.
Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era
Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk
membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada
berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan
dan inginkan sebagai anak.
Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner,
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal “The
Process of Education” pada tahun 1990. Ia menyatakan bahwa kompetensi anak
untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang
mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika . “We begin with the hypothesis
that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to
any child at any stage of development”.
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh
banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan
cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat
busuk… early ripe, early rot!
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD.
Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan
sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat
praktis membelajarkan bayi membaca.
Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
“kesiapan-readiness ” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat
banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on learning’.
Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan
inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.
Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah
membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang
dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana
layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga
seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar
terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet. Lihatlah maraknya
program teve yang belum pantas ditonton anak anak yang ditayangkan di pagi atau
pun sore hari. Media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar
orang dewasa. sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah
memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.
Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah
faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti halnya
kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri
yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan
sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang
dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di berbagai hal tetapi tidak di
semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya
kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan
sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnya saat
perilaku anak menampilkan gaya “kedewasaan “, sementara perasaannya menangis
berteriak sebagai “anak”.
Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak
laki-laki “Heintje” di era tahun 70-an… I’m Nobody’S Child I’M NOBODY’S CHILD
I’M nobody’s child I’m nobodys child Just like a flower I’m growing wild No
mommies kisses and no daddy’s smile Nobody’s louch me I’m nobody’s child.
Dampak berikutnya terjadi … ketika anak memasuki usia remaja. Akibat negatif
lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka
tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam perilaku yang tidak patut.
Patricia O’Brien menamakannya sebagai “The Shrinking of Childhood”. Lu belum
tahu ya… bahwa gue telah melakukan segalanya”, begitu pengakuan seorang remaja
pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya. “Gue tahu apa itu minuman keras,
drug, dan seks ” serunya bangga.
Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan bagaimana
pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian
dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar…. kebutuhan
emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan
waktu untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam
kehidupannya !
Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang
berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak mereka.
Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga
“baby sitter” sebagai pengasuh anak-anaknva. Colette Dowling menamakan ibu-ibu
muda kelompok ini sebagai “Cinderella Syndrome” yang senang window shopping,
ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku
romantis. Sebagai bentuk ilusi menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.
Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga
pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan
mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan
itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di
segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan
diri mereka kepada baby sitter terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak
mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di
lembaga pendidikan eksekutif sebagai wakil dari orang tua.
ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva “be special ” daripada “be average
or normal” semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka
menjadi “to excel to be the best”. Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun
ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai kepentingan
orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti
kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang, basket, balet, tari ball, piano,
biola, melukis, dan banyak lagi lainnya…maka lahirlah anak-anak
super—”SUPERKIDS’ “. Cost merawat anak superkids ini sangat mahal.
Era Superkids berorientasi kepada “Competent Child”. Orangtua saling
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya “earlier is better”.
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri
anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang sosiolog Amerika
pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa
kanak-kanaknya, maka lihatlah… ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia
akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan
berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan
“mis-education” terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989)
mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
Gourmet Parents– (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus,
mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya hidup
kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan cenderung merawat
anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka. Penuh dengan
ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir
tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang
baik seperti halnya membangun karier, maka “superkids” merupakan bukti dari
kehebatan mereka sebagai orangtua. Orangtua kelompok ini memakaikan
anak-anaknya baju-baju mahal bermerek terkenal, memasukkannya ke dalam
program-program eksklusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3
tahun anak-anak mereka sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi
orangtuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya
dipenuhi oleh berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak
kelompok orangtua “gourmet ” atau kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
College Degree Parents — (ORTU INTELEK )
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah ke atas.
Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri
dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya membantu membuat majalah
dinding dan kegiatan ekstra kurikular lainnya. Mereka percaya pendidikan yang
baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Terkadang mereka juga tergiur
menjadikan anak-anak mereka “Superkids “, apabila si anak memperlihatkan
kemampuan akademik yang tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya
ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya
bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan
kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang
dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak
membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
Gold Medal Parents –(ORTU SELEBRITIS )
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya menjadi
kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke
berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti
Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia .
Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes
kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih
kemenangan dan menjadi “seorang Bintang Sejati “. Sejak dini mereka persiapkan
anak-anak mereka menjadi “Sang Juara”, mulai dari juara renang, menyanyi dan
melukis hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.
Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan
anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di mulainya lomba
pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara yang molor
menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta. Anak-anak mulai resah, berkeringat,
mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil mereka. Para orangtua
masih bersemangat, membujuk anak-anaknya bersabar.
Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai
pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas kertas.
Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok
gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil
pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru
olahraga. Atau kasus “bintang cilik” Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup
dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian menjadikannya pengguna dan
pengedar narkoba hingga menjadi penghuni penjara. Atau bintang cilik dunia
Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent
menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!
Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik
“Joshua” yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya.
Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang
dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat
bagaimana lucu dan pintarnya Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia muncul di
TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan nama-nama kepala negara.
Kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum
bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk
dan menjadikan anaknya seorang “superkid” –seorang penyanyi sekaligus seorang
bintang film….
Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu
dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan professional di bidang sosial dan
kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, di Posyandu dan
di perpustakaan. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang
tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok
ini juga bemimpi untuk menjadikan anak-anaknya “Superkids” –earlier is better”.
Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya.
Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka
sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang, dan mencintai
lingkungan hidup yang bersih.
Outward Bound Parents— (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat
memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka
sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan.
Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka
menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan
tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It
Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh
dan menerima konsep “Superkids”. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi
anak-anak yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam
marabahaya. Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya,
seperti memasukkan anak-anaknya “Karate, Yudo, pencak Silat” sejak dini.
Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa
mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah
panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa
dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan
lingkungannya.
Prodigy Parents –(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki
pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang
baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat
semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata,
hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.
Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat
dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok
diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh
kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku
instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang
“Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca” karangan Glenn Doman , atau “Kiat-Kiat
Mengajarkan Bayi Matematika” karangan Siegfried, “Berikan Anakmu pemikiran
Cemerlang” karangan Therese Engelmann, dan “Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat
Membaca Dalam Waktu 9 Hari” karangan Sidney Ledson.
Encounter Group Parents–( ORTU NGERUMPI )
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka
terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau terkadang tidak
memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan
kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.
Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam
membina hubungan dengan orang lain. Sebagai akibatnya kelompok ini sering
melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku
“gang ngrumpi” yang terkadang mengabaikan anak. Kelompok ini banyak
membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka
sebagai orangtua. Atau pun jika mereka memiliki aktivitas di kelompokya lebih
berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah
terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan
anak-anak mereka sebagai “Superkids” juga sangat diharapkan. Namun banyak dari
anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang
diharapkan.
Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak yang
bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka
cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan
tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka
dengan penuh dukungan.
Kelompok ini tidak berpeluang menjadi orangtua yang melakukan “miseducation”
dalam merawat dan mengasuh anak-anaknya. Mereka memberikan lingkungan yang
nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih
yang tulus sebagai orang tua.
Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang
disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan
menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar
segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak
dengan penuh kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga
menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias
dalam kehidupan belajar.
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan
patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu
proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.
Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan
sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang
anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik!
Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih kuat,
atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada
kenangan indah; terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu mendengar
banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga
yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila
seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh
kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan
indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan
memberikan satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)
PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga
terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk
daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah “Industri” dengan
tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan anak. Ada program
akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan rumah yang menumpuk.
Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang sibuk
sebagai “Operator kurikulum” dan tidak punya waktu mempersiapkan materi ajar
karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah. Sebagai guru kelas yang
mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak, guru hanya dapat menjadi
“pengabar isi buku pelajaran” ketimbang menjalankan fungsi edukatif dalam
menfasilitasi pembelajaran. Di saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan
“mesin-mesin dalam menskor” capaian prestasi yang diperoleh anak setelah
diberikan ujian berupa potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan
dalam menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk
menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan sebagai
anak.
Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak membuat bagan
organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan anak jika mereka
diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan?
Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang
ada di dalam buku pelajaran? Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan
oleh otak dengan apa yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku
keseharian mereka sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak
tentang pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam
kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam
kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk sekolah?
dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk….
Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk
menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama.
Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa
sekolah telah melakukan “pedagogy of the oppressed” terhadap anak-anak
didiknya. Di mana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak
tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak
mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan
mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya
membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program dan anak
menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah objek dari proses
pembelajaran (Freire,1993). Model pembelajaran banking system ini dikritik
habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan terbesar. Belum lagi persaingan antar
sekolah. dan persaingan ranking wilayah….
Mengkompetensi Anak— merupakan ” KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN”
Anak adalah anugrah Tuhan… sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi citra
anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang bertanggungjawab.
“(Nature versus Nurture) bagaimana ?” Karena ada dua pengertian kompetensi.
kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang
dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak
sendiri.
Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson
(psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi
apapun sesuai kehendak kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi.
Jika bayi-bayi mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui
pembelajaran dini.
Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut : “Give me a
dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring them up
in, and I’ll guarantee you to take any one at random and train him to become
any type of specialist I might select — doctor, lawyer, artist, merchant chief
and yes, even beggar and thief regardless of this talents, penchants,
tendencies, vocations, and race of his ancestors ”
Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan “intervensi dini”
setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada
sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada tahun 1979.
Di mana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur “Kecakapan
Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)” dalam mata pelajaran membaca dan
matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan
Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : “The improvement in
those areas were not the result of any magic program or any singular teaching
strategy, they were… simply proof that accountability is crucial and that, in
the past five years, it has paid off in New Yersey.”
Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti Eleanor
Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan sebagai
anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik ketika mereka
bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat menyimpulkan bahwa
pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan kompetensi-kompetensi perolehan
pengetahuan hanya secara kognitif.
Oleh karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat menampilkan
kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran. Pendidikan anak
seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti emosi, sosial, kognitif
pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam pembelajaran di sekolah secara
terintegrasi. Sementara pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu
melibatkan berbagai aspek yang dimiliki anak sebagai kompetensi yang beragam
dan unik untuk dibelajarkan. Bukan anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor
saja!. Pendidikan sejati bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang
berkeping-keping, tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus
merawat minat dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang
yang terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku keingintahuan
-”curiosity” inilah yang banyak tercabut dalam sistem persekolahan kita.
Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan!. “Empty Sacks will never
stand upright” — George Eliot
Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif melalui
kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara
bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya.
Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan menumbuhkan
semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah dibutuhkannya peranan guru
sebagai pendidik akademik dan pendidik sanubari “karakter”. Di mana mereka
mendidik anak menjadi “good and smart ” terang hati dan pikiran.
Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan “how learn to learn” pada anak didik
mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak didiknya bahwa
mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan berpikir kritis, dan
cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi sebagai bagian dari proses
mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan
emosi, akan melahirkan berbagai kreativitas.
Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison mengatakan bahwa
“genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration “.
Semangat belajar “encourage” tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak.
Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar. Sementara di
sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka
sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah
mengalirkan “moral litermy” melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa
kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan sejati
sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr ). lnilah keharmonisan dari
pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, antara
kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang berguna dengan perbuatan
yang baik ….
PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang
hati dan terang pikiran “good and smart” merupakan tugas kita bersama.
Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan
secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan
orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi
kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang
dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang
cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.
Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada
anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi “SUPERKIDS”. Inilah fenomena yang
sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak
karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka
mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.