Kamis, 11 September 2014

Malaikat Yang Kurindu #2



Luruh,
Lihatlah, salju turun di kotamu. Singgah di pipiku, membekukan kalbu. Adakah kau rasakan getaran ini?

Aku, ya aku. Orang yang dahulu tak pernah peduli dengan perasaanmu. Yang tak pernah menganggap adanya hadirmu. Kini, rela seberangi samudera dan lintasi benua demi menemukanmu. 

Ingin kunapak tilasi perjalananmu menemui orang yang kau cintai. Orang yang demi dia, kau acuhkan segala kenyamanan dunia. Tapi apa? Dia tak sedikitpun menghargaimu bukan? Tak juga mengerti apa arti ketulusan, hanya tersilap dengan kemewahan.

Kau tinggalkan peluk hangat keluarga, demi jumpainya. Lalu berbalas apa? Senyum kecut dan perasaan dingin, lebih dingin dari guyuran salju yang turun di malam hari.

Dan, orang itu aku. Akulah manusia bodoh yang telah berhasil mencampakkanmu, melumat habis segala rasa yang tumbuh di dada. Aku kejam bukan? Bahkan kata kejam tak mampu mewakili betapa “hebat”nya aku membalas perasaanmu.

Kini, aku dengan segala sesal yang memerih dada, ingin membalikkan takdir dan mengubah cerita. Bodoh, mana bisa!

Karma, mereka menyebutnya. Apa yang dulu kau rasa, kini aku ikut menanggungnya. Bahkan lebih perih. 

Senja meremang, dan aku sendirian. Tersesat menapaki jejakmu, kau dimana?

Sejuta pesona yang menjelma di depan mata, tak sedikitpun mampu mengubah arahku menuju hatimu. Lupa aku dengan dunia, dan hanya inginkanmu, cinta.

Jika mereka berkata, banyak jalan menuju Roma. Lalu, mengapa tak jua kutemukan sebuah jalan menuju hatimu?

Maafkan aku cinta, tak pernah sedikitpun peduli pada sebulir airmatamu yang tumpah. Hingga kini harus kurasakan sendiri, betapa airmataku mengering karena merinduimu.

Dunia, berdamailah denganku dan katakan dimana malaikatku berada. Adakah ia sedang sendiri dan berusaha menyembuhkan luka hatinya? Atau ia sedang membakar seluruh ladang cinta yang ia tanam untukku? Aku hanya sedikit berharap ia mengingatku.

Angin, berbaik hatilah padaku. Kirimkan getar rindu yang memasrah ini untuknya. Mampukan ia untuk mendengar jeritan hatiku yang kian melemah.

Bumi, tunjukilah aku. Di arah mana ku harus menuju, sedang bayangnya telah samar dikikis keraguanku dulu. Sebab langkahku kian goyah, sedang perasaan ini semakin membuncah. Aku harus menemukannya.

Langit, tataplah aku. Sang congkak ini sedang terseok, ingin menebus dosa. Kuingin menemuinya di penghujung senja, segera.

Lalu apa dayaku, kau menghilang sempurna dari netra ini. Masih mampukah kumencari, atau kau yang memilih tuk bersembunyi, tak ingin ditemukan?

Aku tersudut, tersesat di hatimu wahai pemilik bola mata biru. Aku lelah dengan segala penyesalan yang menyesak batin ini.

Dengarlah kidung rindu yang kumainkan untukmu. Lemah memasrah, dari balik dawai-dawai yang rapuh.

Temukanlah aku duhai malaikatku, sungguh aku rindu.

ruangrindu,120914

Tidak ada komentar:

Posting Komentar