Ah, kau siapa? Tapi ukiran
senyummu belum juga mampu kulupa. Bahkan tak menyamar sedikitpun di rentang
masa dan jarak. Bagaimana mungkin bisa sirna, dulu rasa ini pernah begitu
menggelora. Bahkan ketika dunia bilang tidak.
Sepasang sayapmu mampu menerbangkanku,
ke pulau kecil yang belum pernah tersinggahi. Meski mereka bilang, itu
mustahil.
Dan lengkung bibirmu yang merah,
mampu menuntunku menyusuri jalan yang kadang membuat diri ini lelah. Meski
bibir-bibir jahil memintaku untuk menyerah.
Tulusnya hatimu menerangi
sepotong hatiku yang kian melegam, berkarat tertimbun manisnya dusta. Dan suara
sumbang meneriaki untuk waspada
Kau yang rela menungguku tersadar
dari rayuan dunia, dan mengingatkan semua itu hanya fana. Dan kutahu itu lelah
dan menguras hatimu.
Sungguh, mencintaimu bukanlah hal
yang salah. Itu anugerah.
Tapi kenapa semua terlambat?
Bukan, aku yang terlambat. Terlambat mengerti dan menyadari akan hadirmu. Kini,
saat sisi hatiku mendamba, kau telah jauh. Tak tertinggal jejak.
Gulungan masa, mampukah kuurai
semua? Mengulangnya lagi, memasang tiap kepingan hati yang selama ini salah
kuletakkan dalam bingkai cinta.
Kau, dia? Butakah kedua retina
ini, hingga salah menafsirkan rasa? Atau aku hanya terlena oleh balutan tudung
raga?
Jiwa, mengapa kau tak
memperingatiku dari semula? Aku terbuai oleh desah semata. Dan menyiakan cinta
sepenuh nyawa, hingga ia pergi terluka.
Kini, aku harus berdiri sendiri.
Mencoba terbang dengan sayap rapuh milikku. Tahukah, takkan pernah sanggup aku
terbang. Menaklukkan jarak dan menemukanmu.
Kau, masihkah luka dan berdarah?
Kau, mampukah aku menemukanmu
kembali?
Kau, masihkah menyimpan sedikit
kepingan hati untukku?
Ijinkan aku menemukanmu, duniaku
kini hanya tersisa ruang sempit. Dan akan kupenuhi semuanya untukmu.
Di bilangan detik aku merindu,
tak hanya senyum namun hadirmu. Sungguh, ijinkan aku mengulang kidung sendu
milikmu.
Ijinkan aku menatap, mata sendu
biru milikmu.
Mampukan aku mengiringi
tenggelamnya senja bersamamu.
Andai kau tahu, derasnya rinduku
sederas airmata yang turun.
Biarkan aku mencintaimu. Biarkan
aku menyentuh butiran salju yang singgah di pipimu.
Cintaiku sekali lagi, dan takkan
kubiarkan genggaman ini terlepas. Karena kupinta pada Tuhan agar Dia
menggenggam, genggaman kita.
Kau seseorang yang Tuhan kirim
untukku, seorang malaikat bermata sendu.
Tuhan, pertemukanlah kami segera
ruangrindu,120914
Tidak ada komentar:
Posting Komentar