Kamis, 11 September 2014

Malaikat Yang Kurindu #1



Ah, kau siapa? Tapi ukiran senyummu belum juga mampu kulupa. Bahkan tak menyamar sedikitpun di rentang masa dan jarak. Bagaimana mungkin bisa sirna, dulu rasa ini pernah begitu menggelora. Bahkan ketika dunia bilang tidak. 

Sepasang sayapmu mampu menerbangkanku, ke pulau kecil yang belum pernah tersinggahi. Meski mereka bilang, itu mustahil.

Dan lengkung bibirmu yang merah, mampu menuntunku menyusuri jalan yang kadang membuat diri ini lelah. Meski bibir-bibir jahil memintaku untuk menyerah.

Tulusnya hatimu menerangi sepotong hatiku yang kian melegam, berkarat tertimbun manisnya dusta. Dan suara sumbang meneriaki untuk waspada

Kau yang rela menungguku tersadar dari rayuan dunia, dan mengingatkan semua itu hanya fana. Dan kutahu itu lelah dan menguras hatimu.

Sungguh, mencintaimu bukanlah hal yang salah. Itu anugerah.

Tapi kenapa semua terlambat? Bukan, aku yang terlambat. Terlambat mengerti dan menyadari akan hadirmu. Kini, saat sisi hatiku mendamba, kau telah jauh. Tak tertinggal jejak.

Gulungan masa, mampukah kuurai semua? Mengulangnya lagi, memasang tiap kepingan hati yang selama ini salah kuletakkan dalam bingkai cinta.

Kau, dia? Butakah kedua retina ini, hingga salah menafsirkan rasa? Atau aku hanya terlena oleh balutan tudung raga?

Jiwa, mengapa kau tak memperingatiku dari semula? Aku terbuai oleh desah semata. Dan menyiakan cinta sepenuh nyawa, hingga ia pergi terluka.

Kini, aku harus berdiri sendiri. Mencoba terbang dengan sayap rapuh milikku. Tahukah, takkan pernah sanggup aku terbang. Menaklukkan jarak dan menemukanmu.

Kau, masihkah luka dan berdarah? 

Kau, mampukah aku menemukanmu kembali?

Kau, masihkah menyimpan sedikit kepingan hati untukku?

Ijinkan aku menemukanmu, duniaku kini hanya tersisa ruang sempit. Dan akan kupenuhi semuanya untukmu.

Di bilangan detik aku merindu, tak hanya senyum namun hadirmu. Sungguh, ijinkan aku mengulang kidung sendu milikmu.

Ijinkan aku menatap, mata sendu biru milikmu.
 
Mampukan aku mengiringi tenggelamnya senja bersamamu.

Andai kau tahu, derasnya rinduku sederas airmata yang turun.

Biarkan aku mencintaimu. Biarkan aku menyentuh butiran salju yang singgah di pipimu.

Cintaiku sekali lagi, dan takkan kubiarkan genggaman ini terlepas. Karena kupinta pada Tuhan agar Dia menggenggam, genggaman kita.

Kau seseorang yang Tuhan kirim untukku, seorang malaikat bermata sendu.
Tuhan, pertemukanlah kami segera

ruangrindu,120914

Tidak ada komentar:

Posting Komentar