Mohon maaf buat teman-teman yang akunnya kena pishing, terpaksa saya unfriend / block, tapi inilah saran dari facebook.
Kadang, spammer membuat situs web palsu yang tampak seperti halaman
masuk ke Facebook. Apabila Anda memasukkan email dan kata sandi pada
salah satu halaman ini, spammer merekam informasi Anda dan menyimpannya.
Inilah yang disebut phishing.
Apabila seseorang mengalami
phishing, akunnya sering secara otomatis mulai mengirimkan pesan atau
tautan ke sejumlah besar temannya. Pesan atau tautan ini biasanya berupa
iklan yang mendorong teman Anda untuk melihat suatu video atau produk.
info lengkapnya silakan buka https://www.facebook.com/help/www/217910864998172/
Minggu, 23 Maret 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
Ira dan Bolu Kukus
Sekilas mataku menangkap sebuah kotak makan berwarna pink, bergambar
kartun “Strawberry at The Shortcake” di atas sebuah loker. Ini pasti
milik Ira, karena tak ada satupun anak di kelasku yang membawa kotak
makan selain Ira. Pasti tertinggal, karena Ira tadi berangkat sekolah
agak terlambat dan buru-buru masuk ke sentra seni. Kulirik jam dinding,
pukul 10.10 WIB itu berarti snack time sudah dimulai.
Aku bergegas menuju kelas seni, untuk mengembalikan kotak makan ini pada Ira, khawatir dia mencari-cari kotak makannya. Namun baru sampai di muka pintu, aku langsung histeris.
“Iraaa..kamu makan apa?” Teriakku pada Ira yang saat itu ternyata sedang asyik menikmati snack bersama teman-temannya. Sontak saja perhatian mereka langsung tertuju ke arahku, begitu juga dengan Bu Selvi, guru sentra seni. Dia tampak kaget, melihat kehadiranku yang langsung histeris.
Spontan aku langsung merebut makanan yang ada di tangan Ira. Ya Allah, ternyata Ira makan bolu kukus, dan ia hampir saja menghabiskannya, cuma tinggal dua gigitan lagi !
“Kenapa kamu makan ini, Ra?” Tanyaku sambil menahan emosi.
Aku sendiri tahu, Ira mana mungkin menjawab, tapi aku sudah terlanjur panik. Ira cuma bisa pasrah melihatku mengambil paksa dan memotong segala kenikmatannya pagi itu. Dia Cuma menurut saja ketika langsung kusodorkan kotak makan berisi potongan-potongan melon.
“Bu, kenapa Ira bisa sampai makan bolu kukus?” Tanyaku setengah emosi pada Bu Selvi.
“Kan tau, kalo selama ini Ira bawa makan sendiri. Kalau nanti dia kenapa-napa gimana?” Ungkapku kesal
“Maaf sekali Bu, saya lupa. Aduhh, tadi saya benar-benar gak keinget sama sekali, tadi Ocha berkelahi sama Gita jadinya gak terlalu perhatiin Ira.” Jawab Bu Selvi menyesal
Ah aku kecewa, marah dan khawatir sekali hari ini. Sudah berjalan satu semester dan selama itu juga kesalahan seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semua guru pun sudah tahu bagaimana kebiasaan Ira, itu mungkin karena aku yang terlalu cerewet mewanti-wanti dan mengingatkan hal itu pada mereka. Tapi hari ini, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Ira sedang melahap bolu kukus dengan nikmatnya.
Aku kecolongan, sebagai wali kelasnya aku merasa telah gagal menjaga Ira. Namun tak pantas juga aku melampiaskan amarahku pada Bu Selvi, mungkin dia benar-benar lupa hari ini. Aku kecewa, atau lebih tepatnya khawatir atas insiden tadi, takut setelah ini terjadi sesuatu pada Ira.
Dan benar saja, setelah waktu freeplay habis, Habibi langsung menarik-narik ujung jilbabku.
“Bbuu..Iyra da mau masukk!” Teriaknya
“Ira di mana?” tanyaku
Langsung kuikuti langkah kecil Habibi, sudah pasti di belakang ada 10 "ekor-ekor" lain yang bersusulan mengejar. Ah, anak-anak ini selalu mengikutiku kemana saja. Tak bisakah sejenak duduk manis menunggu di dalam, kehadiran kalian justru semakin membuat perasaan ini tak menentu. Pertanyaan-pertanyaan kalian hanya membuat keadaan makin kacau.
“Bu guru, mau kemana?”
“Ira kenapa?”
“Ada apa sih, Bu?”
Aku cuma diam sambil mempercepat langkah kakiku. Dan disanalah Ira berada, di halaman depan sekolah, untung saja pagar sekolah kami tinggi menyentuh atap.
Aku kaget melihat Ira yang sudah berada di atas lemari tempat menaruh helm-helm. Melihat kedatanganku dia malah langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan.
Oh Tuhan, jantungku serasa mau copot melihatnya. Ira melompat-lompat di atas lemari, sedangkan mulutku sibuk berkomat-kamit mengucap istighfar. Refleks kupinta Nayla untuk memanggil guru yang lain ke depan, karena untuk urusan begini cuma Nayla yang bisa diandalkan.
Kubujuk Ira untuk segera turun, namun dia cuma mengeluarkan suara-suara yang menandakan bahwa dia tidak mau. Bola matanya berpindah-pindah menatap sekelilingnya dengan cepat, aku tahu tatapan matanya memang seperti itu, namun kali ini tak nampak seperti biasanya, aneh.
Lima menit berlalu, dan “ekor-ekor”ku yang lain sulit juga dibujuk untuk masuk kelas. Kali ini sudah berhenti melompat, ia hanya mondar-mandir di atas lemari sambil memegangi tembok di belakangnya sementara mulutnya meracau sesuatu yang tak jelas.
“Ira, turun yuk. Mainnya di sini aja.” Bujukku sambil menunjukkan beberapa mainan.
“Ahhh...” Serunya sambil menatap ke arah lain tanda penolakan.
Bantuan akhirnya datang, tapi sama denganku, temanku ini malah kaget. Ah, sepertinya ia takkan membantu, maka kuminta ia menggiring masuk saja “ekor-ekor” kecil yang lain.
Kutunggui Ira dari bawah lemari, aku tak mungkin langsung menyerobotnya turun seperti yang kulakukan pada bolu kukusnya tadi. Kuajak dia bicara meski responnya sedikit sekali, jika ia mulai merasa bosan dan melompat-lompat lagi maka aku akan menyanyi sampai tenggorokan ini kering. Tak apalah yang penting dia berhenti melompat di lemari, aku membayangkan betapa ngerinya jika ia melompat semakin keras dan lemari ini jatuh menimpaku.
“Ayolah Ira, cepat turun, Nak.” Gumamku lirih.
Inilah yang aku khawatirkan, reaksi dari memakan sepotong bolu kukus tadi pagi. Ira adalah seorang anak autis yang memang wajib menjalani diet makanan yang terbuat dari tepung terigu. Karena jika memakan sesuatu yang berasal dari terigu bisa menjadi pemicu yang akan semakin mengaktifkan geraknya, dan ia menjadi tak terkontrol, itu yang aku dengar dari orangtuanya. Sebenarnya bukan cuma terigu, itulah yang membuat orangtuanya memilih membawa sendiri snack dari rumah untuk Ira.
Waktuku tinggal 15 menit lagi untuk bisa merayu Ira agar turun, karena sebentar lagi anak-anak pulang sekolah. Kalau masih begini, pasti akan tambah kacau, Ira akan jadi tontonan anak-anak lain dan aku takut ia semakin gelisah.
Tenggorokan makin kering, sempat terpikir untuk kupanjat saja lemarinya. Tapi khawatir dia marah terus lompat, bisa berabe ini urusan.
Kurayu dan menyanyi lagu kesukaannya, tapi dia cuma tertawa sekilas. Ira tak mampu berkomunikasi, jika bicara dengannya paling dua atau tiga kali dia menatap mataku. Jadi entahlah dia mengerti bahasa rayuanku atau tidak.
"Ira, lihat apa nih di jilbab Bu guru." Pintaku sambil berharap dia menatapku
Ah, dia melihatku. Kurayu lagi hingga berbusa-busa mulut ini rasanya.
"Nih lihat ada bros Lopppp." Kataku sambil memonyongkan mulut dan menunjukkan sebuah bros berbentuk hati yang terpasang di jilbab.
Tiba-tiba dia menirukan kata-kataku,"Looo..oop." Serunya sambil memonyongkan mulut juga.
Alhamdulillaah, akhirnya Ira sekarang terduduk di tepian lemari sambil tetap menggoyangkan badannya.
"Yuk, lihat loopnya, Ira mau pegang?"
Ira tertawa, segera aku raih tangan dan kutepuk-tepuk kakinya. Sudah agak lebih tenang sekarang.
"Ira mau lihat, yuk sini."
Kunaiki bangku panjang di sebelah lemari dan menuntunnya turun. Ia lalu asyik memegang-megang bros bentuk hatiku. Ah, ternyata semudah itukah ?
Kali ini iya, tapi penanganan kepada Ira memang selalu berbeda. Hari ini bisa diatasi dengan bros, tapi lain kali tidak. Karena Ira selalu spesial.
Aku bergegas menuju kelas seni, untuk mengembalikan kotak makan ini pada Ira, khawatir dia mencari-cari kotak makannya. Namun baru sampai di muka pintu, aku langsung histeris.
“Iraaa..kamu makan apa?” Teriakku pada Ira yang saat itu ternyata sedang asyik menikmati snack bersama teman-temannya. Sontak saja perhatian mereka langsung tertuju ke arahku, begitu juga dengan Bu Selvi, guru sentra seni. Dia tampak kaget, melihat kehadiranku yang langsung histeris.
Spontan aku langsung merebut makanan yang ada di tangan Ira. Ya Allah, ternyata Ira makan bolu kukus, dan ia hampir saja menghabiskannya, cuma tinggal dua gigitan lagi !
“Kenapa kamu makan ini, Ra?” Tanyaku sambil menahan emosi.
Aku sendiri tahu, Ira mana mungkin menjawab, tapi aku sudah terlanjur panik. Ira cuma bisa pasrah melihatku mengambil paksa dan memotong segala kenikmatannya pagi itu. Dia Cuma menurut saja ketika langsung kusodorkan kotak makan berisi potongan-potongan melon.
“Bu, kenapa Ira bisa sampai makan bolu kukus?” Tanyaku setengah emosi pada Bu Selvi.
“Kan tau, kalo selama ini Ira bawa makan sendiri. Kalau nanti dia kenapa-napa gimana?” Ungkapku kesal
“Maaf sekali Bu, saya lupa. Aduhh, tadi saya benar-benar gak keinget sama sekali, tadi Ocha berkelahi sama Gita jadinya gak terlalu perhatiin Ira.” Jawab Bu Selvi menyesal
Ah aku kecewa, marah dan khawatir sekali hari ini. Sudah berjalan satu semester dan selama itu juga kesalahan seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semua guru pun sudah tahu bagaimana kebiasaan Ira, itu mungkin karena aku yang terlalu cerewet mewanti-wanti dan mengingatkan hal itu pada mereka. Tapi hari ini, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Ira sedang melahap bolu kukus dengan nikmatnya.
Aku kecolongan, sebagai wali kelasnya aku merasa telah gagal menjaga Ira. Namun tak pantas juga aku melampiaskan amarahku pada Bu Selvi, mungkin dia benar-benar lupa hari ini. Aku kecewa, atau lebih tepatnya khawatir atas insiden tadi, takut setelah ini terjadi sesuatu pada Ira.
Dan benar saja, setelah waktu freeplay habis, Habibi langsung menarik-narik ujung jilbabku.
“Bbuu..Iyra da mau masukk!” Teriaknya
“Ira di mana?” tanyaku
Langsung kuikuti langkah kecil Habibi, sudah pasti di belakang ada 10 "ekor-ekor" lain yang bersusulan mengejar. Ah, anak-anak ini selalu mengikutiku kemana saja. Tak bisakah sejenak duduk manis menunggu di dalam, kehadiran kalian justru semakin membuat perasaan ini tak menentu. Pertanyaan-pertanyaan kalian hanya membuat keadaan makin kacau.
“Bu guru, mau kemana?”
“Ira kenapa?”
“Ada apa sih, Bu?”
Aku cuma diam sambil mempercepat langkah kakiku. Dan disanalah Ira berada, di halaman depan sekolah, untung saja pagar sekolah kami tinggi menyentuh atap.
Aku kaget melihat Ira yang sudah berada di atas lemari tempat menaruh helm-helm. Melihat kedatanganku dia malah langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan.
Oh Tuhan, jantungku serasa mau copot melihatnya. Ira melompat-lompat di atas lemari, sedangkan mulutku sibuk berkomat-kamit mengucap istighfar. Refleks kupinta Nayla untuk memanggil guru yang lain ke depan, karena untuk urusan begini cuma Nayla yang bisa diandalkan.
Kubujuk Ira untuk segera turun, namun dia cuma mengeluarkan suara-suara yang menandakan bahwa dia tidak mau. Bola matanya berpindah-pindah menatap sekelilingnya dengan cepat, aku tahu tatapan matanya memang seperti itu, namun kali ini tak nampak seperti biasanya, aneh.
Lima menit berlalu, dan “ekor-ekor”ku yang lain sulit juga dibujuk untuk masuk kelas. Kali ini sudah berhenti melompat, ia hanya mondar-mandir di atas lemari sambil memegangi tembok di belakangnya sementara mulutnya meracau sesuatu yang tak jelas.
“Ira, turun yuk. Mainnya di sini aja.” Bujukku sambil menunjukkan beberapa mainan.
“Ahhh...” Serunya sambil menatap ke arah lain tanda penolakan.
Bantuan akhirnya datang, tapi sama denganku, temanku ini malah kaget. Ah, sepertinya ia takkan membantu, maka kuminta ia menggiring masuk saja “ekor-ekor” kecil yang lain.
Kutunggui Ira dari bawah lemari, aku tak mungkin langsung menyerobotnya turun seperti yang kulakukan pada bolu kukusnya tadi. Kuajak dia bicara meski responnya sedikit sekali, jika ia mulai merasa bosan dan melompat-lompat lagi maka aku akan menyanyi sampai tenggorokan ini kering. Tak apalah yang penting dia berhenti melompat di lemari, aku membayangkan betapa ngerinya jika ia melompat semakin keras dan lemari ini jatuh menimpaku.
“Ayolah Ira, cepat turun, Nak.” Gumamku lirih.
Inilah yang aku khawatirkan, reaksi dari memakan sepotong bolu kukus tadi pagi. Ira adalah seorang anak autis yang memang wajib menjalani diet makanan yang terbuat dari tepung terigu. Karena jika memakan sesuatu yang berasal dari terigu bisa menjadi pemicu yang akan semakin mengaktifkan geraknya, dan ia menjadi tak terkontrol, itu yang aku dengar dari orangtuanya. Sebenarnya bukan cuma terigu, itulah yang membuat orangtuanya memilih membawa sendiri snack dari rumah untuk Ira.
Waktuku tinggal 15 menit lagi untuk bisa merayu Ira agar turun, karena sebentar lagi anak-anak pulang sekolah. Kalau masih begini, pasti akan tambah kacau, Ira akan jadi tontonan anak-anak lain dan aku takut ia semakin gelisah.
Tenggorokan makin kering, sempat terpikir untuk kupanjat saja lemarinya. Tapi khawatir dia marah terus lompat, bisa berabe ini urusan.
Kurayu dan menyanyi lagu kesukaannya, tapi dia cuma tertawa sekilas. Ira tak mampu berkomunikasi, jika bicara dengannya paling dua atau tiga kali dia menatap mataku. Jadi entahlah dia mengerti bahasa rayuanku atau tidak.
"Ira, lihat apa nih di jilbab Bu guru." Pintaku sambil berharap dia menatapku
Ah, dia melihatku. Kurayu lagi hingga berbusa-busa mulut ini rasanya.
"Nih lihat ada bros Lopppp." Kataku sambil memonyongkan mulut dan menunjukkan sebuah bros berbentuk hati yang terpasang di jilbab.
Tiba-tiba dia menirukan kata-kataku,"Looo..oop." Serunya sambil memonyongkan mulut juga.
Alhamdulillaah, akhirnya Ira sekarang terduduk di tepian lemari sambil tetap menggoyangkan badannya.
"Yuk, lihat loopnya, Ira mau pegang?"
Ira tertawa, segera aku raih tangan dan kutepuk-tepuk kakinya. Sudah agak lebih tenang sekarang.
"Ira mau lihat, yuk sini."
Kunaiki bangku panjang di sebelah lemari dan menuntunnya turun. Ia lalu asyik memegang-megang bros bentuk hatiku. Ah, ternyata semudah itukah ?
Kali ini iya, tapi penanganan kepada Ira memang selalu berbeda. Hari ini bisa diatasi dengan bros, tapi lain kali tidak. Karena Ira selalu spesial.
Kamis, 13 Maret 2014
Palestine tomorrow will be free_Maher Zain
Every day we tell each other
That this day will be, will be the last
And tomorrow we all can go home free
And all this will finally end
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
That this day will be, will be the last
And tomorrow we all can go home free
And all this will finally end
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
No mother no father to wipe away my tears
That's why I won't cry
I feel scared but I won't show my fears
I keep my head high
Deep in my heart I never have any doubt that
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
That's why I won't cry
I feel scared but I won't show my fears
I keep my head high
Deep in my heart I never have any doubt that
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
I saw those rockets and bombs shining in the sky
Like drops of rain in the sun's light
Takin away everyone dear to my heart
Destroying my dreams in a blink of an eye
What happened to our human rights?
What happened to the sanctity of life?
And all those other lies?
Like drops of rain in the sun's light
Takin away everyone dear to my heart
Destroying my dreams in a blink of an eye
What happened to our human rights?
What happened to the sanctity of life?
And all those other lies?
I know that I'm only a child
But is your conscience still alive?
Ooooooh ... Yeaaah
I will caress with my bare hands
Every precious grain of sand
Every stone and every tree
Cuz no matter what they do
They can never hurt you
Cuz your soul will always be free
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free
Senin, 10 Maret 2014
Event Lomba
Jumpa lagi
di tahun 2014. Ini event pertama dari Meta Kata di tahun ini. Kali ini kami
ingin membuat tetralogi cinta atau 4 buku tentang serangkaian cinta yang akan
dipandu oleh saya, Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib.
Event
ini akan dibagi menjadi 2 sesi, yang pertama ini mengangkat 2 tema event yaitu
: First Love (First) yang akan dipegang oleh saya dan True Love (True) yang
akan dipegang oleh Bunda Ocha Thalib. Oke tak perlu berpanjang-panjang, ya,
simak aja persyaratannya sebagai berikut :
- Lomba terbuka untuk umum.
- Lomba dibuka dari tanggal 11 Februari sampai dengan 9 Maret 2014 (pukul 23:59 WIB).
- Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
- Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”.
- Naskah dalam bentuk : 1. Flash True Story : panjang naskah maksimal 700 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan. 2. Puisi : panjang naskah 16 baris (boleh ditulis dalam 4 bait boleh lebih) dan ditambahkan biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat e-mail) Biodata narasi tidak boleh dipisah dengan naskah.
- File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
- Tulis subjek email dan nama file: Puisi/fts_judul_nama penulis jika dikirim untuk event “First Love” maka kirim ke arvelristy13@gmail.com sedangkan bila dikirim untuk event “True Love” maka kirim ke pena.metakata@gmail.com
- Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya dalam satu event, tidak boleh mengirim dalam bentuk puisi sekaligus fts untuk satu event. Misal : “First love” mengirimkan fts sedangkan di “True Love” mengirimkan puisi. Atau di “First Love” mengirimkan puisi dan di “True Love” mengirimkan puisi juga, dst. Yang mengirim fts dan puisi dalam satu event maka akan didiskualifikasi.
- Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event First Love” untuk event “First Love” dan “Update Peserta Event True Love” untuk event “True Love”. Update akan dilakukan oleh masing-masing PJ.
10.
Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan
hadiah berikut:
FTS terbaik
: Pulsa Rp 25.000 + Voucher Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
Puisi
terbaik : Pulsa Rp 15.000 + Voucher Penerbitan Senilai Rp 100.000 +
E-sertifikat
#Catatan:
Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah
pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan
dengan voucher lainnya.
11.
Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan
dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan
mendapatkan diskon 10% s.d. 20% dalam pembelian buku terbit.
12.
Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 18 Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
Ketika Bahagiaku Pergi (Based on True Story)
Baru saja kuletakkan Caca di tempat tidur perlahan, dengan
hati-hati aku bangkit agar dia tak terbangun lagi. Semenjak sakit panas
kemarin, dia jadi sulit tidur dan agak rewel. Selain mengurus Caca, akupun
harus telaten mengurus mama yang sejak seminggu ini sakit. Bahkan beberapa hari
ini kondisinya mulai memburuk. Namun belum sempat aku beranjak, aku mendengar
suara lirih dari kamar depan, kamar yang kini ditempati mama.
“Mba....” Panggilnya pelan.
Segera aku melangkah cepat namun hati-hati agar tak
membangunkan Caca.
“Iya Mah, kenapa? Mama pusing lagi?” Tanyaku setengah
berbisik.
“Gak Mba Ifa, tolong jendelanya dibuka lebih lebar lagi ya. Agak
gerah, lagian kalau dibuka aroma bunga di depan bisa kecium sampai kamar.” Pinta
Mama sambil tersenyum.
“Iya Mah.” Jawabku.
Tapi itu percakapan seminggu yang lalu, saat Mama dan aku
terakhir kali bercerita. Bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang masa
lalu Mama. Saat Mama pertama kali bertemu dengan Papa, menikah, tentang masa
kecilku dan adikku, Tiara. Puas sekali kami tertawa, hingga sampailah ketika
kami harus mengulang cerita-cerita sedih dalam kehidupan kami berdua. Kisah 8
tahun lalu, di mana Tuhan mengambil salah satu kebahagiaan kami. Kami harus
kehilangan Tiara untuk selama-lamanya. Tumor ganas di rahim telah merenggut
nyawanya tiba-tiba di usia yang masih belia, 17 tahun usianya kala itu.
Siapa sangka, Tiara gadis periang, bertubuh subur dan jarang
sekali sakit itu, tiba-tiba divonis Dokter mengidap tumor ganas. Kami sekeluarga
shock berat, penyakit jantung Papa langsung kambuh, beliau langsung drop. Apalagi
Mama, dia yang paling terpukul dengan semua ini. Karena beliau begitu dekat
dengan kami anaknya, yang hanya berjumlah dua orang. Dia merasa kecolongan,
karena merasa tak mampu merawat anaknya dengan baik. Lalu bagaimana denganku
ketika menghadapi hari berat itu? Aku seperti orang linglung, menghadapi
pemandangan mengenaskan seperti itu. Yang ada di benakku hanya kata “kematian”,
itu saja. Dan benarlah, kenyataan tragis itu datang, adikku Tiara meninggal. Dia
meninggal pasca operasi. Ah, sungguh aku tak ingin bercerita tentang kesedihan.
Namun kisah sedih hadir lagi, tepatnya 2 tahun yang lalu. Ketika
aku sudah menikah dan usia Caca baru 3 bulan, Papa meninggal. Selain jantung,
Papa mengidap penyakit gagal ginjal. Hingga selama setahun, Papa tak pernah
absen untuk cuci darah tiap bulannya, Mamalah yang selalu mendampinginya. Oh
Tuhan, aku tak pernah bisa membayangkan betapa besar ketegaran Mama. Mendampingi
orang-orang yang dicintai di masa sulit, bahkan hingga akhir hayat mereka. Dan akhirnya,
mungkin Papa sudah lelah, lelah menahan nyeri tiap tusukan-tusukan jarum yang
terasa hampir menyedot tulangnya. Sedangkan fisiknya sudah renta, kurus dimakan
usia dan penyakit, beliaupun meninggalkan kami di usia ke 65.
Aku hanya pasrah sekarang, di dalam ruangan bernuansa putih beraroma
obat yang menusuk hidung. Sudah malam kedua semenjak Mama keluar dari ruang
operasi, kondisinya memburuk, dan ia kini terbaring tak sadarkan diri di ICU. Setelah
percakapan kami terakhir di kamar depan, tiba-tiba Mama muntah darah. Hingga langsung
kularikan ke rumah sakit, dan apa kata
Dokter? Mama mengidap penyakit kanker serviks.
Tuhan, apalagi ini? Apa Kau memang sengaja ingin membiarkan
aku sendiri di dunia ? Setelah apa yang telah terjadi padaku selama ini, mengapa
tak Kau beri kisah ini pada aktorMu yang lain saja? Belumkah cukup tertebus
semua ini dengan airmataku? Cukuplah Kau renggut mereka Tuhan, selamatkan
Mamaku, dialah salah satu kebahagiaanku yang tersisa.
Aku masih banjir airmata dan tenggelam dalam doa, ketika
tiba-tiba Suster memanggilku untuk masuk ke dalam.
“Mba..Mba, ayo Ibunya dibisikin.” Ujarnya pelan karena
mungkin dia tahu aku sedang khusyu berdoa selepas solat Isya.
“A..Apaa maksudnya Sus?” Jawabku serak, yang ditanya tak jua
menjawab.
Entah, apa yang kurasakan saat itu, tubuhku tiba-tiba
menggigil. Melihat Dokter dan beberapa Perawat langsung berlarian masuk, aku
merasakan tubuhku sedikit oleng. Entah apa yang mereka lakukan pada Mamaku.
“Ayo mba, dibisikin Ibunya.” Serunya lagi.
Tanpa pikir panjang, aku langsung turuti perintahnya. Semua doa,
syahadat dan apapun yang kutahu, aku bisikkan lirih di telinganya. Meski putus-putus,
karena ternyata lebih banyak isakan lirih yang keluar dari mulutku. 15 menit
tanpa henti kutenggelam dalam lautan doa-doa yang ku alirkan lewat telingamu,
dan semakin erat pelukanku mendekap tubuhmu.
“Mama, jangan pergi,
kumohon. Please don’t die, stay with me always.” Bisikku lirih di antara
rangkaian doa panjangku.
“Mba, yang ikhlas ya.” Kata seseorang sambil menepuk
pundakku pelan.
Aku langsung bangkit, dan melihat sekelilingku ternyata
mereka sudah mencopoti selang-selang dan katup-katup yang menempel di tubuh
Mama. Mataku panas, dan jiwaku serasa hilang. Hitam. Aku pingsan.
Dan, kalian bertiga, kini berjajar di bawah kamboja yang
sama. Entah kapan aku akan ada di sana, menjadi pelengkap hingga kita bisa
berkumpul lagi layaknya keluarga. Tunggulah, suatu saat nanti.
Dan kau KANKER ! Atau apalah namanya, takkan lagi kau
kubiarkan menggerogoti jiwa-jiwa yang kucinta.
Rabu, 05 Maret 2014
Future Ladies
Bunda, jangan menangis
Apalagi pesimis
Aku bukan teroris
Atau remaja narsis
Aku cuma ingin,
Dapatkan gadis manis
Yang sanggup menutup betis
Juga aurat dengan
kain berlapis
Tanda iman tak tipis
Tak mau keluar garis
Berbuat anarkis
Bicara sadis
Layaknya iblis
Kau tetap manis
Meski, mereka memandang sinis
Buat hati teriris
Tapi imanmu tak terkikis
Adamu naturalis
Jiwamu tak materialis
Denganmu hatiku isis
Semoga ku segera menemukanmu
Hey, my future ladies
ABSTRAK
UPAYA
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS DAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK MENGENAL BENTUK
GEOMETRI MELALUI MEDIA PLASTISIN DI KELAS A6 RA USAMAH KOTA TEGAL TAHUN AJARAN
2013 / 2014
Qurotul Aeni( 822126795)1
1Mahasiswa
Program S1 PG PAUD , Universitas Terbuka
Email
: enny.usamah@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian Tindakan
Kelas berjudul “Upaya Meningkatkan
Kemampuan Motorik Halus dan Kemampuan Kognitif Anak Mengenal Bentuk Geometri
Melalui Media Plastisin di Kelas A RA USAMAH KOTA TEGAL TAHUN AJARAN 2013 /
2014 ” bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak dan
meningkatkan kemampuan kognitif anak mengenal bentuk – bentuk geometri.
Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kemampuan motorik halus anak dan
rendahnya kemampuan kognitif anak dalam mengenal bentuk – bentuk geometri , hal
ini disebabkan rendahnya minat anak dalam pembelajaran sehingga peneliti
mencoba untuk memperbaiki hal tersebut.
Subyek penelitian ini adalah kelas
A6 RA USAMAH KOTA TEGAL TAHUN AJARAN 2013 / 2014 dengan jumlah siswa 23 anak.
Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II , siklus I
dilaksanakan pada tanggal 23 – 24 September 2013 dan siklus II dilaksanakan
pada 30 September – 4 Oktober 2013. Siklus I dan Siklus II dilaksanakan dengan masing
– masing tahapan yaitu Perencanaan , Pelaksanaan , Pengamatan dan Refleksi.
Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah dengan melakukan observasi langsung
dengan menggunakan lembar observasi , dokumentasi dan hasil karya.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa melalui media bermain plastisin dapat meningkatkan
kemampuan motorik halus dan kemampuan kognitif anak mengenal bentuk – bentuk
geometri pada kelas A6 RA USAMAH KOTA TEGAL TAHUN AJARAN 2013 / 2014. Hal tersebut
dapat terlihat pada hasil perbandingan peningkatan kemampuan anak pada kondisi
awal , siklus I dan siklus II.
Langganan:
Postingan (Atom)