Baru saja kuletakkan Caca di tempat tidur perlahan, dengan
hati-hati aku bangkit agar dia tak terbangun lagi. Semenjak sakit panas
kemarin, dia jadi sulit tidur dan agak rewel. Selain mengurus Caca, akupun
harus telaten mengurus mama yang sejak seminggu ini sakit. Bahkan beberapa hari
ini kondisinya mulai memburuk. Namun belum sempat aku beranjak, aku mendengar
suara lirih dari kamar depan, kamar yang kini ditempati mama.
“Mba....” Panggilnya pelan.
Segera aku melangkah cepat namun hati-hati agar tak
membangunkan Caca.
“Iya Mah, kenapa? Mama pusing lagi?” Tanyaku setengah
berbisik.
“Gak Mba Ifa, tolong jendelanya dibuka lebih lebar lagi ya. Agak
gerah, lagian kalau dibuka aroma bunga di depan bisa kecium sampai kamar.” Pinta
Mama sambil tersenyum.
“Iya Mah.” Jawabku.
Tapi itu percakapan seminggu yang lalu, saat Mama dan aku
terakhir kali bercerita. Bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang masa
lalu Mama. Saat Mama pertama kali bertemu dengan Papa, menikah, tentang masa
kecilku dan adikku, Tiara. Puas sekali kami tertawa, hingga sampailah ketika
kami harus mengulang cerita-cerita sedih dalam kehidupan kami berdua. Kisah 8
tahun lalu, di mana Tuhan mengambil salah satu kebahagiaan kami. Kami harus
kehilangan Tiara untuk selama-lamanya. Tumor ganas di rahim telah merenggut
nyawanya tiba-tiba di usia yang masih belia, 17 tahun usianya kala itu.
Siapa sangka, Tiara gadis periang, bertubuh subur dan jarang
sekali sakit itu, tiba-tiba divonis Dokter mengidap tumor ganas. Kami sekeluarga
shock berat, penyakit jantung Papa langsung kambuh, beliau langsung drop. Apalagi
Mama, dia yang paling terpukul dengan semua ini. Karena beliau begitu dekat
dengan kami anaknya, yang hanya berjumlah dua orang. Dia merasa kecolongan,
karena merasa tak mampu merawat anaknya dengan baik. Lalu bagaimana denganku
ketika menghadapi hari berat itu? Aku seperti orang linglung, menghadapi
pemandangan mengenaskan seperti itu. Yang ada di benakku hanya kata “kematian”,
itu saja. Dan benarlah, kenyataan tragis itu datang, adikku Tiara meninggal. Dia
meninggal pasca operasi. Ah, sungguh aku tak ingin bercerita tentang kesedihan.
Namun kisah sedih hadir lagi, tepatnya 2 tahun yang lalu. Ketika
aku sudah menikah dan usia Caca baru 3 bulan, Papa meninggal. Selain jantung,
Papa mengidap penyakit gagal ginjal. Hingga selama setahun, Papa tak pernah
absen untuk cuci darah tiap bulannya, Mamalah yang selalu mendampinginya. Oh
Tuhan, aku tak pernah bisa membayangkan betapa besar ketegaran Mama. Mendampingi
orang-orang yang dicintai di masa sulit, bahkan hingga akhir hayat mereka. Dan akhirnya,
mungkin Papa sudah lelah, lelah menahan nyeri tiap tusukan-tusukan jarum yang
terasa hampir menyedot tulangnya. Sedangkan fisiknya sudah renta, kurus dimakan
usia dan penyakit, beliaupun meninggalkan kami di usia ke 65.
Aku hanya pasrah sekarang, di dalam ruangan bernuansa putih beraroma
obat yang menusuk hidung. Sudah malam kedua semenjak Mama keluar dari ruang
operasi, kondisinya memburuk, dan ia kini terbaring tak sadarkan diri di ICU. Setelah
percakapan kami terakhir di kamar depan, tiba-tiba Mama muntah darah. Hingga langsung
kularikan ke rumah sakit, dan apa kata
Dokter? Mama mengidap penyakit kanker serviks.
Tuhan, apalagi ini? Apa Kau memang sengaja ingin membiarkan
aku sendiri di dunia ? Setelah apa yang telah terjadi padaku selama ini, mengapa
tak Kau beri kisah ini pada aktorMu yang lain saja? Belumkah cukup tertebus
semua ini dengan airmataku? Cukuplah Kau renggut mereka Tuhan, selamatkan
Mamaku, dialah salah satu kebahagiaanku yang tersisa.
Aku masih banjir airmata dan tenggelam dalam doa, ketika
tiba-tiba Suster memanggilku untuk masuk ke dalam.
“Mba..Mba, ayo Ibunya dibisikin.” Ujarnya pelan karena
mungkin dia tahu aku sedang khusyu berdoa selepas solat Isya.
“A..Apaa maksudnya Sus?” Jawabku serak, yang ditanya tak jua
menjawab.
Entah, apa yang kurasakan saat itu, tubuhku tiba-tiba
menggigil. Melihat Dokter dan beberapa Perawat langsung berlarian masuk, aku
merasakan tubuhku sedikit oleng. Entah apa yang mereka lakukan pada Mamaku.
“Ayo mba, dibisikin Ibunya.” Serunya lagi.
Tanpa pikir panjang, aku langsung turuti perintahnya. Semua doa,
syahadat dan apapun yang kutahu, aku bisikkan lirih di telinganya. Meski putus-putus,
karena ternyata lebih banyak isakan lirih yang keluar dari mulutku. 15 menit
tanpa henti kutenggelam dalam lautan doa-doa yang ku alirkan lewat telingamu,
dan semakin erat pelukanku mendekap tubuhmu.
“Mama, jangan pergi,
kumohon. Please don’t die, stay with me always.” Bisikku lirih di antara
rangkaian doa panjangku.
“Mba, yang ikhlas ya.” Kata seseorang sambil menepuk
pundakku pelan.
Aku langsung bangkit, dan melihat sekelilingku ternyata
mereka sudah mencopoti selang-selang dan katup-katup yang menempel di tubuh
Mama. Mataku panas, dan jiwaku serasa hilang. Hitam. Aku pingsan.
Dan, kalian bertiga, kini berjajar di bawah kamboja yang
sama. Entah kapan aku akan ada di sana, menjadi pelengkap hingga kita bisa
berkumpul lagi layaknya keluarga. Tunggulah, suatu saat nanti.
Dan kau KANKER ! Atau apalah namanya, takkan lagi kau
kubiarkan menggerogoti jiwa-jiwa yang kucinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar