Sabtu, 15 Maret 2014

Ira dan Bolu Kukus

Sekilas mataku menangkap sebuah kotak makan berwarna pink, bergambar kartun “Strawberry at The Shortcake” di atas sebuah loker. Ini pasti milik Ira, karena tak ada satupun anak di kelasku yang membawa kotak makan selain Ira. Pasti tertinggal, karena Ira tadi berangkat sekolah agak terlambat dan buru-buru masuk ke sentra seni. Kulirik jam dinding, pukul 10.10 WIB itu berarti snack time sudah dimulai.
Aku bergegas menuju kelas seni, untuk mengembalikan kotak makan ini pada Ira, khawatir dia mencari-cari kotak makannya. Namun baru sampai di muka pintu, aku langsung histeris.
“Iraaa..kamu makan apa?” Teriakku pada Ira yang saat itu ternyata sedang asyik menikmati snack bersama teman-temannya. Sontak saja perhatian mereka langsung tertuju ke arahku, begitu juga dengan Bu Selvi, guru sentra seni. Dia tampak kaget, melihat kehadiranku yang langsung histeris.
Spontan aku langsung merebut makanan yang ada di tangan Ira. Ya Allah, ternyata Ira makan bolu kukus, dan ia hampir saja menghabiskannya, cuma tinggal dua gigitan lagi !
“Kenapa kamu makan ini, Ra?” Tanyaku sambil menahan emosi.
Aku sendiri tahu, Ira mana mungkin menjawab, tapi aku sudah terlanjur panik. Ira cuma bisa pasrah melihatku mengambil paksa dan memotong segala kenikmatannya pagi itu. Dia Cuma menurut saja ketika langsung kusodorkan kotak makan berisi potongan-potongan melon.
“Bu, kenapa Ira bisa sampai makan bolu kukus?” Tanyaku setengah emosi pada Bu Selvi.
“Kan tau, kalo selama ini Ira bawa makan sendiri. Kalau nanti dia kenapa-napa gimana?” Ungkapku kesal
“Maaf sekali Bu, saya lupa. Aduhh, tadi saya benar-benar gak keinget sama sekali, tadi Ocha berkelahi sama Gita jadinya gak terlalu perhatiin Ira.” Jawab Bu Selvi menyesal
Ah aku kecewa, marah dan khawatir sekali hari ini. Sudah berjalan satu semester dan selama itu juga kesalahan seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semua guru pun sudah tahu bagaimana kebiasaan Ira, itu mungkin karena aku yang terlalu cerewet mewanti-wanti dan mengingatkan hal itu pada mereka. Tapi hari ini, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Ira sedang melahap bolu kukus dengan nikmatnya.
Aku kecolongan, sebagai wali kelasnya aku merasa telah gagal menjaga Ira. Namun tak pantas juga aku melampiaskan amarahku pada Bu Selvi, mungkin dia benar-benar lupa hari ini. Aku kecewa, atau lebih tepatnya khawatir atas insiden tadi, takut setelah ini terjadi sesuatu pada Ira.
Dan benar saja, setelah waktu freeplay habis, Habibi langsung menarik-narik ujung jilbabku.
“Bbuu..Iyra da mau masukk!” Teriaknya
“Ira di mana?” tanyaku
Langsung kuikuti langkah kecil Habibi, sudah pasti di belakang ada 10 "ekor-ekor" lain yang bersusulan mengejar. Ah, anak-anak ini selalu mengikutiku kemana saja. Tak bisakah sejenak duduk manis menunggu di dalam, kehadiran kalian justru semakin membuat perasaan ini tak menentu. Pertanyaan-pertanyaan kalian hanya membuat keadaan makin kacau.
“Bu guru, mau kemana?”
“Ira kenapa?”
“Ada apa sih, Bu?”
Aku cuma diam sambil mempercepat langkah kakiku. Dan disanalah Ira berada, di halaman depan sekolah, untung saja pagar sekolah kami tinggi menyentuh atap.
Aku kaget melihat Ira yang sudah berada di atas lemari tempat menaruh helm-helm. Melihat kedatanganku dia malah langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan.
Oh Tuhan, jantungku serasa mau copot melihatnya. Ira melompat-lompat di atas lemari, sedangkan mulutku sibuk berkomat-kamit mengucap istighfar. Refleks kupinta Nayla untuk memanggil guru yang lain ke depan, karena untuk urusan begini cuma Nayla yang bisa diandalkan.
Kubujuk Ira untuk segera turun, namun dia cuma mengeluarkan suara-suara yang menandakan bahwa dia tidak mau. Bola matanya berpindah-pindah menatap sekelilingnya dengan cepat, aku tahu tatapan matanya memang seperti itu, namun kali ini tak nampak seperti biasanya, aneh.
Lima menit berlalu, dan “ekor-ekor”ku yang lain sulit juga dibujuk untuk masuk kelas. Kali ini sudah berhenti melompat, ia hanya mondar-mandir di atas lemari sambil memegangi tembok di belakangnya sementara mulutnya meracau sesuatu yang tak jelas.
“Ira, turun yuk. Mainnya di sini aja.” Bujukku sambil menunjukkan beberapa mainan.
“Ahhh...” Serunya sambil menatap ke arah lain tanda penolakan.
Bantuan akhirnya datang, tapi sama denganku, temanku ini malah kaget. Ah, sepertinya ia takkan membantu, maka kuminta ia menggiring masuk saja “ekor-ekor” kecil yang lain.
Kutunggui Ira dari bawah lemari, aku tak mungkin langsung menyerobotnya turun seperti yang kulakukan pada bolu kukusnya tadi. Kuajak dia bicara meski responnya sedikit sekali, jika ia mulai merasa bosan dan melompat-lompat lagi maka aku akan menyanyi sampai tenggorokan ini kering. Tak apalah yang penting dia berhenti melompat di lemari, aku membayangkan betapa ngerinya jika ia melompat semakin keras dan lemari ini jatuh menimpaku.
“Ayolah Ira, cepat turun, Nak.” Gumamku lirih.
Inilah yang aku khawatirkan, reaksi dari memakan sepotong bolu kukus tadi pagi. Ira adalah seorang anak autis yang memang wajib menjalani diet makanan yang terbuat dari tepung terigu. Karena jika memakan sesuatu yang berasal dari terigu bisa menjadi pemicu yang akan semakin mengaktifkan geraknya, dan ia menjadi tak terkontrol, itu yang aku dengar dari orangtuanya. Sebenarnya bukan cuma terigu, itulah yang membuat orangtuanya memilih membawa sendiri snack dari rumah untuk Ira.
Waktuku tinggal 15 menit lagi untuk bisa merayu Ira agar turun, karena sebentar lagi anak-anak pulang sekolah. Kalau masih begini, pasti akan tambah kacau, Ira akan jadi tontonan anak-anak lain dan aku takut ia semakin gelisah.
Tenggorokan makin kering, sempat terpikir untuk kupanjat saja lemarinya. Tapi khawatir dia marah terus lompat, bisa berabe ini urusan.
Kurayu dan menyanyi lagu kesukaannya, tapi dia cuma tertawa sekilas. Ira tak mampu berkomunikasi, jika bicara dengannya paling dua atau tiga kali dia menatap mataku. Jadi entahlah dia mengerti bahasa rayuanku atau tidak.
"Ira, lihat apa nih di jilbab Bu guru." Pintaku sambil berharap dia menatapku
Ah, dia melihatku. Kurayu lagi hingga berbusa-busa mulut ini rasanya.
"Nih lihat ada bros Lopppp." Kataku sambil memonyongkan mulut dan menunjukkan sebuah bros berbentuk hati yang terpasang di jilbab.
Tiba-tiba dia menirukan kata-kataku,"Looo..oop." Serunya sambil memonyongkan mulut juga.
Alhamdulillaah, akhirnya Ira sekarang terduduk di tepian lemari sambil tetap menggoyangkan badannya.
"Yuk, lihat loopnya, Ira mau pegang?"
Ira tertawa, segera aku raih tangan dan kutepuk-tepuk kakinya. Sudah agak lebih tenang sekarang.
"Ira mau lihat, yuk sini."
Kunaiki bangku panjang di sebelah lemari dan menuntunnya turun. Ia lalu asyik memegang-megang bros bentuk hatiku. Ah, ternyata semudah itukah ?
Kali ini iya, tapi penanganan kepada Ira memang selalu berbeda. Hari ini bisa diatasi dengan bros, tapi lain kali tidak. Karena Ira selalu spesial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar