Minggu, 04 Mei 2014

Ai, My Bestfriend




“Aku mau menjadi dokter di kampung ini, Fa,” begitu kata Ai padaku di suatu hari. Ah, tak kaget aku mendengarnya, kau memang seorang gadis yang mulia. Sudah sejak SMP aku dan Aizah bersahabat, mengukir masa-masa indah remaja bersama. Tak seharipun terlewatkan tanpa bertemu dengannya. Hingga hampir seluruh penduduk kampung mengerti bahwa jika ada Farah, maka selalu ada Aizah. Aneh rasanya jika salah satu dari kita berjalan sendirian, tak jarang banyak orang yang iri dengan persahabatanku dengan Ai, meskipun karakter kami berbeda. Ai seorang gadis yang lembut, sedangkan aku cenderung emosional.

Menyenangkan rasanya berboncengan sepeda saat pergi ke sekolah, lalu bermain di sawah. Berlomba menaikkan layang-layang di tanah lapang, menggembala kambing di padang, semuanya menyenangkan. Atau mencuri buah jeruk di kebun Wak Mamat, lalu bersembunyi karena takut melihat Wak marah, sungguh itu adalah kenangan yang takkan pernah aku lupakan.
Aku memang tak dilahirkan di kampung ini, melainkan anak ibukota yang mengikuti ayah bertugas. Maka betapa bahagianya merasakan kehidupan yang berbeda dengan hidupku sebelumnya, apalagi ketika Tuhan memberi sahabat yang teramat baik seperti Aizah.

Orang bilang, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan hukum itu berlaku pula untuk kami. Pengumuman kelulusan SMU yang seharusnya membahagiakan untuk kami, justru semakin mendekatkan pada momen-momen dramatis.

Karena selepas SMU, kami harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aizah akan mengambil program kedokteran pada sebuah universitas negeri yang ada di kota Bukittinggi. Sedangkan aku yang terobsesi berkeliling dunia dan menjadi seorang diplomat, harus melanjutkan kuliah di Jakarta, kota kelahiranku. Sebenarnya aku sudah memaksa Mama dan Papa agar membiarkanku kuliah bersama Ai. Namun keinginan ini ditolak, karena Papa berniat meminta mutasi ke Jakarta. Sungguh, kesedihan menggelayutiku setiap hari. Sejenak kulupakan hasrat menggebu untuk menjadi seorang diplomat, aku ingin tinggal di sini saja. Di kampung yang sudah terlanjur aku cinta, dan sahabatku Ai yang tiada duanya. Tak pernah aku bertemu seorang sahabat seperti dia, seorang sahabat yang selalu mengerti akan diriku. Tempat berbagi suka duka, mengingatkanku kala aku lupa dan berbuat salah. Mengimbangi saat emosiku tak menentu.

Dan perpisahan kami, adalah sebuah momen menyedihkan yang tak pernah aku lalui sebelumnya. Sebuah perpisahan dramatis, layaknya adegan sepasang kekasih yang dipisahkan. Aku menangis dan memeluk Ai erat, seperti takkan pernah bersua lagi. Aku menyadari bahwa akan berpisah berkilo-kilo meter jauhnya dari Ai, sahabatku

Kulalui hari-hari beratku di ibukota, namun aku beruntung Ai adalah seorang sahabat yang selalu menguatkanku. SMS dan telepon adalah sandaranku untuk tetap bisa tertawa dengannya. Kadang kami mengirim email untuk bertukar kabar.

Tahun berlalu, tentunya komunikasi tak sesering dulu. Apalagi rutinitas kampus menghabiskan banyak waktuku, begitu juga dengan Ai. Dia mengambil jurusan Kedokteran, pasti lebih sibuk dariku.

Tapi kali ini berbeda, sudah sebulan lebih dia tak menjawab email dan SMSku, nomor ponselnya pun tak aktif. Ada apa ini?
Apakah dia teramat sibuk, sampai sama sekali tak ingat padaku? Hingga akhirnya kukirimkan surat, berharap dia akan membacanya. Atau mungkin orang rumah akan membaca dan memberikan padanya.
****
Aku marah dan kecewa. Apa kau telah sengaja melupakanku Ai? Bahkan dua kali surat yang kukirimkan padamu, tak satupun yang kau balas. Apa kau sudah punya teman-teman baru yang membuatmu lupa padaku?

Liburan semester ini aku bertekad pergi ke Padang. Jauh dari keramaian Jakarta, menikmati indah dan sejuknya suasana kampung. Rindu makan rendang dan kue lemang, juga rindu berjumpa Aizah.
Ai pasti kaget melihatku sekarang, memakai jilbab seperti yang pernah dia katakan bahwa wanita muslimah wajib menutup auratnya. Ai, aku memang belum bisa sesolihah dirimu, tapi aku pasti bisa. Kubawakan gamis dan jilbab warna senada, oleh-oleh dari Jakarta seperti yang Ai pernah minta. Aku sengaja membelinya dua, satu untukku dan satu untuk Ai, agar orang mengira kita anak kembar. Pasti lucu dan menyenangkan.
***
Kuketuk pintu rumah Ai berulangkali, kosong seperti tak berpenghuni. Lalu muncullah Mamak Ida dari balik pintu, masyaAllah, rindu benar aku kepada Maknya Ai. Dia langsung tersenyum dan menangis melihatku, memelukku erat. Bahagia rasanya bahwa aku masih dirindukan, namun kenapa tangisan Mak Ida tak jua berhenti?

“Ai ada di rumahkah Mak?” Tanyaku. Namun Mak Ida malah menangis semakin kencang.
“Mak, ada apa?” Tanyaku bingung
“Kemarilah Fa,” ucap Mak sambil membimbingku untuk duduk.
“Aizah sudah meninggal,” ucap Mak Ida sambil tersekat
“Apa?” Ucapku kaget
“Mak tidak sedang bercanda kan?”
***
Aku tergugu di samping batu nisan yang bertuliskan nama Aizah. Tangisku tak jua berhenti, hatiku sampai nyeri menerima kenyataan bahwa Ai telah tiada. Bahkan aku jatuh pingsan kala Mak Ida bercerita bahwa Ai terkena musibah, dia tertabrak mobil saat pulang dari kampus.
Ya Allah, aku tak percaya telah kehilangan seorang sahabat terbaik dan terhebat dalam hidupku. Aku akan selalu berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni segala dosamu dan semoga kau selalu disayangi Allah seperti aku menyayangimu. Selamat jalan Ai, sahabat sejatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar