“Aku mau menjadi dokter
di kampung ini, Fa,” begitu kata Ai padaku di suatu hari. Ah, tak kaget aku
mendengarnya, kau memang seorang gadis yang mulia. Sudah sejak SMP aku dan
Aizah bersahabat, mengukir masa-masa indah remaja bersama. Tak seharipun
terlewatkan tanpa bertemu dengannya. Hingga hampir seluruh penduduk kampung
mengerti bahwa jika ada Farah, maka selalu ada Aizah. Aneh rasanya jika salah
satu dari kita berjalan sendirian, tak jarang banyak orang yang iri dengan
persahabatanku dengan Ai, meskipun karakter kami berbeda. Ai seorang gadis yang
lembut, sedangkan aku cenderung emosional.
Menyenangkan rasanya
berboncengan sepeda saat pergi ke sekolah, lalu bermain di sawah. Berlomba
menaikkan layang-layang di tanah lapang, menggembala kambing di padang, semuanya
menyenangkan. Atau mencuri buah jeruk di kebun Wak Mamat, lalu bersembunyi
karena takut melihat Wak marah, sungguh itu adalah kenangan yang takkan pernah
aku lupakan.
Aku memang tak
dilahirkan di kampung ini, melainkan anak ibukota yang mengikuti ayah bertugas.
Maka betapa bahagianya merasakan kehidupan yang berbeda dengan hidupku
sebelumnya, apalagi ketika Tuhan memberi sahabat yang teramat baik seperti
Aizah.
Orang bilang, setiap
ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan hukum itu berlaku pula untuk kami.
Pengumuman kelulusan SMU yang seharusnya membahagiakan untuk kami, justru semakin
mendekatkan pada momen-momen dramatis.
Karena selepas SMU,
kami harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aizah akan mengambil
program kedokteran pada sebuah universitas negeri yang ada di kota Bukittinggi.
Sedangkan aku yang terobsesi berkeliling dunia dan menjadi seorang diplomat,
harus melanjutkan kuliah di Jakarta, kota kelahiranku. Sebenarnya aku sudah
memaksa Mama dan Papa agar membiarkanku kuliah bersama Ai. Namun keinginan ini
ditolak, karena Papa berniat meminta mutasi ke Jakarta. Sungguh, kesedihan
menggelayutiku setiap hari. Sejenak kulupakan hasrat menggebu untuk menjadi
seorang diplomat, aku ingin tinggal di sini saja. Di kampung yang sudah
terlanjur aku cinta, dan sahabatku Ai yang tiada duanya. Tak pernah aku bertemu
seorang sahabat seperti dia, seorang sahabat yang selalu mengerti akan diriku.
Tempat berbagi suka duka, mengingatkanku kala aku lupa dan berbuat salah.
Mengimbangi saat emosiku tak menentu.
Dan perpisahan kami,
adalah sebuah momen menyedihkan yang tak pernah aku lalui sebelumnya. Sebuah
perpisahan dramatis, layaknya adegan sepasang kekasih yang dipisahkan. Aku
menangis dan memeluk Ai erat, seperti takkan pernah bersua lagi. Aku menyadari
bahwa akan berpisah berkilo-kilo meter jauhnya dari Ai, sahabatku
Kulalui hari-hari
beratku di ibukota, namun aku beruntung Ai adalah seorang sahabat yang selalu
menguatkanku. SMS dan telepon adalah sandaranku untuk tetap bisa tertawa
dengannya. Kadang kami mengirim email untuk bertukar kabar.
Tahun berlalu, tentunya
komunikasi tak sesering dulu. Apalagi rutinitas kampus menghabiskan banyak
waktuku, begitu juga dengan Ai. Dia mengambil jurusan Kedokteran, pasti lebih
sibuk dariku.
Tapi kali ini berbeda,
sudah sebulan lebih dia tak menjawab email dan SMSku, nomor ponselnya pun tak
aktif. Ada apa ini?
Apakah dia teramat
sibuk, sampai sama sekali tak ingat padaku? Hingga akhirnya kukirimkan surat,
berharap dia akan membacanya. Atau mungkin orang rumah akan membaca dan
memberikan padanya.
****
Aku marah dan kecewa.
Apa kau telah sengaja melupakanku Ai? Bahkan dua kali surat yang kukirimkan
padamu, tak satupun yang kau balas. Apa kau sudah punya teman-teman baru yang
membuatmu lupa padaku?
Liburan semester ini
aku bertekad pergi ke Padang. Jauh dari keramaian Jakarta, menikmati indah dan
sejuknya suasana kampung. Rindu makan rendang dan kue lemang, juga rindu
berjumpa Aizah.
Ai pasti kaget
melihatku sekarang, memakai jilbab seperti yang pernah dia katakan bahwa wanita
muslimah wajib menutup auratnya. Ai, aku memang belum bisa sesolihah dirimu,
tapi aku pasti bisa. Kubawakan gamis dan jilbab warna senada, oleh-oleh dari
Jakarta seperti yang Ai pernah minta. Aku sengaja membelinya dua, satu untukku
dan satu untuk Ai, agar orang mengira kita anak kembar. Pasti lucu dan
menyenangkan.
***
Kuketuk pintu rumah Ai
berulangkali, kosong seperti tak berpenghuni. Lalu muncullah Mamak Ida dari
balik pintu, masyaAllah, rindu benar aku kepada Maknya Ai. Dia langsung
tersenyum dan menangis melihatku, memelukku erat. Bahagia rasanya bahwa aku
masih dirindukan, namun kenapa tangisan Mak Ida tak jua berhenti?
“Ai ada di rumahkah
Mak?” Tanyaku. Namun Mak Ida malah menangis semakin kencang.
“Mak, ada apa?” Tanyaku
bingung
“Kemarilah Fa,” ucap
Mak sambil membimbingku untuk duduk.
“Aizah sudah
meninggal,” ucap Mak Ida sambil tersekat
“Apa?” Ucapku kaget
“Mak tidak sedang
bercanda kan?”
***
Aku tergugu di samping
batu nisan yang bertuliskan nama Aizah. Tangisku tak jua berhenti, hatiku
sampai nyeri menerima kenyataan bahwa Ai telah tiada. Bahkan aku jatuh pingsan
kala Mak Ida bercerita bahwa Ai terkena musibah, dia tertabrak mobil saat
pulang dari kampus.
Ya Allah, aku tak
percaya telah kehilangan seorang sahabat terbaik dan terhebat dalam hidupku.
Aku akan selalu berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni segala dosamu dan
semoga kau selalu disayangi Allah seperti aku menyayangimu. Selamat jalan Ai,
sahabat sejatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar