Sabtu, 17 Mei 2014

Strong Muslimah



Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa),”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa dan tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al-Baqoroh 286).
Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing dengan ayat terakhir surat Al-Baqoroh, atau malah sudah hafal dengan ayat ini. Surat terpanjang di dalam Alquran ini, ternyata mengandung sebuah nasihat dan doa indah di penghujungnya.
Poin nasihat terletak pada kalimat awal yaitu, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
Sebagai seorang manusia, sudah pasti di dalam kehidupannya tidak lepas dari permasalahan/ujian dan cobaan dalam hidup. Sudah ketetapan dari Allah atas apa yang terjadi pada tiap diri seseorang. Namun sebagai seorang manusia yang lemah, kita sering terpuruk saat ditimpa musibah ataupun diberi ujian oleh Allah. Bahkan kadang “menggugat” Allah atas takdir yang berlaku pada diri, dan sering berkata bahwa Allah tidak adil dan tidak sayang pada kita.
Padahal saat kita membaca ayat tersebut, sudah dijelaskan bahwa seberat apapun ujian/permasalahan yang diberikan Allah berarti kita sanggup memikulnya. Sudah diukur “kadar”nya oleh Allah, karena tidak mungkin Allah akan mendzalimi hamba-Nya dengan memberikan ujian yang terlalu berat diluar kemampuan seorang hamba.
Apalagi sebagai seorang muslimah, yang secara fisik lebih lemah daripada kaum laki-laki, namun tidak berarti kita boleh lemah saat diberi ujian oleh Allah. Bahkan ujian yang diberikan oleh Allah dapat menunjukkan tingkat keimanan seseorang.
Belajar dari kisah ketegaran seorang muslimah solehah, istri sekaligus ibunda seorang Nabi, yaitu Siti Hajar. Ketika beliau ditinggalkan oleh sang suami, Nabi Ibrahim AS di sebuah padang pasir yang tandus bersama anaknya yang masih balita, Ismail.
Awalnya dia sempat bertanya kepada sang suami, mengapa dia tega meninggalkannya bersama si kecil Ismail pada sebuah tempat yang gersang dan tak berpenghuni, tanpa air apalagi makanan. Dan hanya satu jawaban yang ia terima, “Ini adalah perintah Allah.”
Ketika mendengarkan jawaban suaminya, keraguan Hajar pun hilang. Karena ia yakin jika semua ini adalah perintah dari Allah, sudah pasti Allahlah yang akan menjamin segalanya.
Demi memperjuangkan hidupnya dan Ismail, Siti Hajar berlari antara bukit Shofa dan Marwah demi mencari air karena kehausan karena kehausan. Dengan jarak yang cukup jauh, Hajar berlari melintasi teriknya bukit namun air tak didapatinya, dia tetap berlari hingga fisiknya mulai melemah, berulang kali dia berlari melewati bukit namun tiada tanda-tanda keberadaan sang mata air. Di dalam keputusasaannya itulah kemudian Allah memberikan pertolongan, Ismail kecil yang kehausan lalu menangis sambil menjejak-jejakkan kakinya dan  qadarullah, air muncul dari bawah tanah yang dijejak Ismail tadi.
Betapa bahagianya Hajar, ternyata Allah membalas usahanya dengan hasil yang tak terduga. Ia berlari hingga tujuh kali, pada usahanya yang ketujuh itulah Allah memancarkan sumber mata air yang tetap mengalir hingga kini, yaitu air zam-zam. Tidak hanya sampai disitu saja Allah menghargai keimanan Hajar, bahkan perjuangannya berlari mencari air diabadikan menjadi salah satu rukun haji, bernama Sa’i.
Di dunia ini tidak ada yang mengetahui kesulitan dan solusinya kecuali Allah. Maka masih layakkah kita depresi, stres, cemas dan galau ketika Allah sedang menguji kita. Yakinlah bahwa ujian yang sedang diberikan Allah tidak sebesar ujian yang dihadapi Siti Hajar, Asiyah istri Firaun, ataupun Maryam binti Imran karena tentu saja keimanan kita tidak sebanding dengan mereka.
Ujian kita lebih banyak yang bersifat duniawi, gagal masuk Universitas favoritlah, tidak lolos wawancara kerja, gagal menikah dan lain-lain. Terkadang diuji seperti itu saja sudah membuat kita tak enak makan tak enak tidur, dan dunia seakan mau runtuh saja.
Padahal dalam ayat lain juga Allah telah mengingatkan bahwa Dia akan memberi jalan keluar pada kita dari arah yang tidak disangka-sangka. Selalulah berprasangka baik pada Allah, dan ketika kita diuji berarti Allah sayang dan ingin selalu menghidupkan hati kita agar selalu ingat pada-Nya.
Dan sudah seharusnya sebagai seorang muslimah yang telah mengakui Allah sebagai Robb, tidak berkecil hati dan putus asa apabila kita ditimpa ujian oleh Allah dalam bentuk apapun. Selalu yakin bahwa segala hal terjadi atas kehendak Allah, kita hanya diminta untuk berikhtiar sekuat tenaga, berdoa dan menyerahkan segalanya pada Allah dengan tetap berprasangka baik pada-Nya.
Ketika musibah dan ujian menerpa kita, hadapilah dengan tersenyum dan berkata,”I’m Muslimah and I’m strong”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar