Minggu, 30 Maret 2014

Wanita Hebat



Jika ditanya apakah aku ingin menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, maka dengan pasti akan kujawab,tidak keduanya!

Dulu dalam pandanganku, menjadi seorang wanita karir adalah sebuah simbol kesuksesan. Terkesan elegan, cerdas, dan penuh prestise. Sedang figur seorang ibu rumah tangga dapat dikatakan sebuah simbol keterkungkungan dan ketinggalan zaman.

Namun itu dulu, pandanganku kini telah berubah, menjadi seorang wanita karir bukanlah lagi sebuah impian. Karena sejak aku tahu bahwa dalam Islam justru kedudukan wanita lebih mulia jika ia tinggal dalam rumah mengurus keluarga.  Bahwa seorang ibu adalah madrasah “sekolah” awal bagi anak-anaknya, saat itulah aku mulai mulai memikirkan untung-rugi menjadi seorang wanita karir.

Aku sendiri sekarang bekerja menjadi seorang guru TK. Dan di posisiku sekarang justru aku banyak memperoleh pengalaman, bersinggungan langsung dengan anak-anak yang kedua orangtuanya adalah seorang yang amat sukses dengan karirnya. Dan ibu mereka adalah seorang wanita karir.

Di awal ketika anak-anak ini masuk sekolah, tak pernah aku melihat seperti apa figur / tampang kedua orangtuanya. Karena yang selalu datang mengantar dan menjemput ke sekolah adalah pengasuhnya. Begitu juga ketika aku datangi rumahnya, saat bermaksud ingin menjenguk karena sakit, yang kutemui hanyalah sang pengasuh. 

Dan yang juga pernah membuatku sedih adalah, ketika tiba saatnya pulang sekolah ada salah satu anak yang menangis sambil memegangiku,
“Aku mau pulang sama Bu guru aja, gak mau ke rumah.” Ucapnya suatu hari.
Sebenarnya kejadiannya biasa saja dan sering terjadi, namun entah kenapa itu membekas di hati. Setelah seharian jauh dari rumah, biasanya justru anak-anak akan kangen rumah dan ingin segera pulang ke rumah. Namun dia justru tidak mau pulang ke rumah, dalam batinku berkata apakah jika orangtuanya mendengar kata-kata anaknya ini tidak sedih?

Apalagi jika umur mereka masih balita, tentunya sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian khususnya dari seorang ibu. Bagaimana jika akhirnya anak lebih memilih dekat dengan orang lain daripada ibunya sendiri, tentunya sangat menyakitkan. Tapi jangan salahkan mereka, karena itulah kenyataannya bahwa mereka merasa “ tidak disayangi” ibu.

Aku pun sering mendapati anak-anak yang temper tantrum (emosi meledak-ledak). Dan setelah kucari tahu, ternyata dia kurang kasih sayang, ibunya sibuk dan sering ke luar kota.
Sedikit alasan itulah yang meyakinkanku bahwa aku tak ingin lagi menjadi wanita karir seperti dulu. Dan Alhamdulillah, ternyata aku ditakdirkan menjadi seorang guru. Memang profesi guru pun nantinya jika aku sudah berumah tangga tetap membuatku meninggalkan rumah. Namun setidaknya jam kerjaku tidak sampai sore atau malam, sehingga aku masih mempunyai banyak waktu untuk keluarga.

Namun tak lantas membuat anak-anak yang ibunya, tidak menjadi wanita karir atau hanya menjadi seorang ibu rumah tangga berarti menjadi anak yang “baik-baik” saja. Tidak selalu begitu, karena aku pun banyak menghadapi kelakuan “aneh” dari anak-anak ini.

Hal itu bisa terjadi karena mungkin saja ibunya tidak tahu bagaimana seharusnya mendidik anak yang benar. Meskipun dia tinggal di rumah namun jika tidak tahu bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan mengetahui cara mendidik anak yang benar, maka hal itu percuma saja.

Padahal untuk menjadi seorang ibu rumah tangga pun sebenarnya tidak mudah. Dibutuhkan ilmu yang cukup, tidak cuma jasadnya saja yang hadir di rumah tetapi tidak menghadirkan ruhiyah dan niat yang benar serta tulus untuk membentuk rumah tangga dan mendidik anak.

Banyak kutemui anak didik yang ibunya di rumah, namun anaknya juga tidak terurus. Ibunya sibuk di luar, atau juga ada yang meski ibunya tinggal di rumah namun tidak mempunyai kesabaran yang cukup dalam mengasuh anaknya.
Ah, dua fenomena itulah yang sering aku temui dalam kehidupanku sehari-hari. Meski tidak menutup mata, ada juga seorang ibu yang juga berperan sebagai wanita karir namun anak mereka tetap memperoleh perhatian yang cukup. Dan ada pula sosok ibu-ibu rumah tangga yang hebat.

Sedang aku sendiri memilih untuk tetap menjadi seorang guru TK. Karena sebagai guru TK sedikit banyaknya aku sedang belajar untuk mendidik dan mengurus anak. Mengetahui perkembangan anak, sehingga bisa digunakan untuk bekalku kelak dalam mendidik anak. Selain itu, dengan menjadi guru aku mempunyai banyak waktu untuk bersama keluarga dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Jadi, antara pekerjaan dan keluarga dapat kuseimbangkan. Aku bisa mendulang manfaat dan pahala dari dua hal yang kulakukan. Menjadi apapun itu, keluarga nomor satu. Jadilah wanita yang bermanfaat dan bermartabat, itulah wanita hebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar