Jika
ditanya apakah aku ingin menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, maka
dengan pasti akan kujawab,tidak keduanya!
Dulu
dalam pandanganku, menjadi seorang wanita karir adalah sebuah simbol
kesuksesan. Terkesan elegan, cerdas, dan penuh prestise. Sedang figur seorang
ibu rumah tangga dapat dikatakan sebuah simbol keterkungkungan dan ketinggalan
zaman.
Namun
itu dulu, pandanganku kini telah berubah, menjadi seorang wanita karir bukanlah
lagi sebuah impian. Karena sejak aku tahu bahwa dalam Islam justru kedudukan
wanita lebih mulia jika ia tinggal dalam rumah mengurus keluarga. Bahwa seorang ibu adalah madrasah “sekolah”
awal bagi anak-anaknya, saat itulah aku mulai mulai memikirkan untung-rugi
menjadi seorang wanita karir.
Aku
sendiri sekarang bekerja menjadi seorang guru TK. Dan di posisiku sekarang
justru aku banyak memperoleh pengalaman, bersinggungan langsung dengan
anak-anak yang kedua orangtuanya adalah seorang yang amat sukses dengan
karirnya. Dan ibu mereka adalah seorang wanita karir.
Di
awal ketika anak-anak ini masuk sekolah, tak pernah aku melihat seperti apa
figur / tampang kedua orangtuanya. Karena yang selalu datang mengantar dan
menjemput ke sekolah adalah pengasuhnya. Begitu juga ketika aku datangi
rumahnya, saat bermaksud ingin menjenguk karena sakit, yang kutemui hanyalah
sang pengasuh.
Dan
yang juga pernah membuatku sedih adalah, ketika tiba saatnya pulang sekolah ada
salah satu anak yang menangis sambil memegangiku,
“Aku
mau pulang sama Bu guru aja, gak mau ke rumah.” Ucapnya suatu hari.
Sebenarnya
kejadiannya biasa saja dan sering terjadi, namun entah kenapa itu membekas di
hati. Setelah seharian jauh dari rumah, biasanya justru anak-anak akan kangen
rumah dan ingin segera pulang ke rumah. Namun dia justru tidak mau pulang ke
rumah, dalam batinku berkata apakah jika orangtuanya mendengar kata-kata
anaknya ini tidak sedih?
Apalagi
jika umur mereka masih balita, tentunya sangat membutuhkan kasih sayang dan
perhatian khususnya dari seorang ibu. Bagaimana jika akhirnya anak lebih
memilih dekat dengan orang lain daripada ibunya sendiri, tentunya sangat
menyakitkan. Tapi jangan salahkan mereka, karena itulah kenyataannya bahwa
mereka merasa “ tidak disayangi” ibu.
Aku
pun sering mendapati anak-anak yang temper tantrum (emosi meledak-ledak). Dan
setelah kucari tahu, ternyata dia kurang kasih sayang, ibunya sibuk dan sering
ke luar kota.
Sedikit
alasan itulah yang meyakinkanku bahwa aku tak ingin lagi menjadi wanita karir
seperti dulu. Dan Alhamdulillah, ternyata aku ditakdirkan menjadi seorang guru.
Memang profesi guru pun nantinya jika aku sudah berumah tangga tetap membuatku
meninggalkan rumah. Namun setidaknya jam kerjaku tidak sampai sore atau malam,
sehingga aku masih mempunyai banyak waktu untuk keluarga.
Namun
tak lantas membuat anak-anak yang ibunya, tidak menjadi wanita karir atau hanya
menjadi seorang ibu rumah tangga berarti menjadi anak yang “baik-baik” saja. Tidak
selalu begitu, karena aku pun banyak menghadapi kelakuan “aneh” dari anak-anak
ini.
Hal
itu bisa terjadi karena mungkin saja ibunya tidak tahu bagaimana seharusnya
mendidik anak yang benar. Meskipun dia tinggal di rumah namun jika tidak tahu
bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dan mengetahui cara
mendidik anak yang benar, maka hal itu percuma saja.
Padahal
untuk menjadi seorang ibu rumah tangga pun sebenarnya tidak mudah. Dibutuhkan
ilmu yang cukup, tidak cuma jasadnya saja yang hadir di rumah tetapi tidak
menghadirkan ruhiyah dan niat yang benar serta tulus untuk membentuk rumah
tangga dan mendidik anak.
Banyak
kutemui anak didik yang ibunya di rumah, namun anaknya juga tidak terurus.
Ibunya sibuk di luar, atau juga ada yang meski ibunya tinggal di rumah namun
tidak mempunyai kesabaran yang cukup dalam mengasuh anaknya.
Ah,
dua fenomena itulah yang sering aku temui dalam kehidupanku sehari-hari. Meski
tidak menutup mata, ada juga seorang ibu yang juga berperan sebagai wanita
karir namun anak mereka tetap memperoleh perhatian yang cukup. Dan ada pula
sosok ibu-ibu rumah tangga yang hebat.
Sedang
aku sendiri memilih untuk tetap menjadi seorang guru TK. Karena sebagai guru TK
sedikit banyaknya aku sedang belajar untuk mendidik dan mengurus anak.
Mengetahui perkembangan anak, sehingga bisa digunakan untuk bekalku kelak dalam
mendidik anak. Selain itu, dengan menjadi guru aku mempunyai banyak waktu untuk
bersama keluarga dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Jadi,
antara pekerjaan dan keluarga dapat kuseimbangkan. Aku bisa mendulang manfaat
dan pahala dari dua hal yang kulakukan. Menjadi apapun itu, keluarga nomor
satu. Jadilah wanita yang bermanfaat dan bermartabat, itulah wanita hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar