Minggu, 30 Maret 2014

Keajaiban Jodoh



Menikah dengan jodoh impian adalah dambaan bagi setiap insan. Namun meraih harapan untuk bisa bersatu dengan sang pujaan, mengarungi hidup dengan jodoh impian, ternyata tak selalu mudah. Jangankan untuk bersatu, terkadang proses untuk “menemukan” jodoh impian pun bagi sebagian orang sangatlah sulit. 

Kadang semakin dikejar, semakin menjauh. Saat kita tidak peduli, dia malah makin mendekat. Ada pasangan yang sudah hampir menikah, segala persiapan sudah lengkap, tapi ternyata kandas juga akhirnya. Ada juga yang belum punya perencanaan menikah, ternyata secara mendadak dan tidak terduga ia dipertemukan dengan jodohnya lalu tak lama mereka menikah.

Asam di gunung, garam di laut akhirnya bertemu juga di belanga. Itulah rahasia dari sebuah jodoh. Meski harus menempuh cara  yang panjang dan tak mudah, jika memang Allah telah gariskan untuk bersama, apapun caranya mereka pasti akan dipertemukan di pelaminan.

 Sekalipun  terkadang harus merasakan sakit, putus asa ketika berusaha untuk meraihnya, dan harus menerima kenyataan bahwa impian untuk bersama sang jodoh idaman harus terkubur rapat-rapat. Namun tak jarang juga, saat kita merasa telah menyerah dengan banyaknya halangan untuk bersama, tiba-tiba Allah memberi jalan yang tak disangka-sangka.

Ini adalah sebuah kisah dari seorang teman, dan kebetulan sedikit banyak aku ikut terlibat dalam kisah perjuangan cinta mereka.

Sebut saja namanya Arti. Dia adalah anak kedua dari pasangan bapak dan ibu Ahmad. Sebelum ini, aku tak begitu mengenal Arti, karena aku adalah teman adiknya, yang bernama Arni. Aku dan Arni sangatlah akrab, hingga otomatis aku dan keluarganya seumpama keluarga dekat.

Namun dari seluruh keluarga Ahmad ini, yang paling tidak kukenal adalah mba Arti. Mungkin karena selama ini, dia tinggal di Bandung, dan menjadi seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di sana. Setahuku kuliahnya hampir selesai, dan beberapa bulan lagi ia akan di wisuda itu cerita yang kudengar dari cerita kedua orangtuanya.

Ayah dan ibunya sangat bangga kepada Arti karena telah berhasil menguliahkan Arti hingga hampir tamat, meskipun mereka cuma berasal dari keluarga sederhana. Pak Ahmad adalah seorang penjaga sekolah sedangkan istrinya ikut membantu dengan membuka kantin di sekolah yang sama. Meski berasal dari keluarga yang sederhana tapi semangat mereka untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak sangatlah besar. Anak pertama mereka cuma lulusan D3, dan kini sudah menikah.

Dari cerita mereka aku tahu kalau bapak dan ibu Ahmad ini sangat sayang sekali dengan mba Arti. Dia adalah sosok yang selalu dijadikan contoh untuk adik-adiknya, selain pintar dia juga solehah. Tak jarang aku mendengar betapa mereka sangat menyanjung sosok mba Arti di depanku, sehingga sosok bernama Arti terlalu sempurna di mataku. Hingga saat dia pulang ke rumah, aku agak sungkan untuk bercerita dengannya. Tidak seperti anggota keluarga Arni yang lain.
Hingga tibalah hari itu.
“En, kamu tolongin mba Arti ya.” Pinta Arni tiba-tiba
“ Tolong apaan?” Tanyaku kaget
“Mba Arti sekarang di rumah, dan dia butuh bantuan.”
“Emang udah selesai kuliahnya, bantuan apa?”
“Belum, tinggal nunggu wisuda. Tapi selama itu mba Arti gak boleh ke Bandung lagi, dia gak boleh kemana-mana. Bapak sama mamah marah besar.” Terang Arni
“Haahh..?” Jawabku kaget

Lalu Arni menceritakan semuanya padaku, katanya seminggu yang lalu mba Arni pulang ke rumah. Namun kepulangannya kali ini agak lain dari kepulangan yang biasa. Biasanya tiap liburan dia pulang untuk menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Kali ini selain mengabarkan bahwa dia sudah lulus dan akan wisuda bulan Oktober mendatang, tapi juga dia ingin memberitahukan orangtuanya tentang sebuah hal.

Kepulangannya kali ini ditemani oleh seorang lelaki, lelaki yang kemudian aku panggil sebagai Aa Yo. Maksud mereka datang adalah untuk memperkenalkan Aa Yo kepada orangtua Arti. Ternyata di Bandung sana Arti sudah dita’arufkan oleh Murobbinya dengan seorang ikhwan yang namanya Wahyoko, namun lebih akrab disapa Aa Yo.

Dan nampaknya ta’aruf di antara keduanya berjalan lancar, dan dari kedua belah pihak telah setuju untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk memberitahukan rencana ini kepada kedua orangtua masing-masing. Keluarga Aa Yo sepertinya setuju saja dan mendukung rencana mereka berdua. Tetapi tidak dengan kedua orangtua Arti, rencana baik mereka ditolak mentah-mentah. Bahkan Aa Yo, langsung diusir oleh Bu Ahmad saat itu juga. Dan mengancamnya dengan keras jika dia sampai berani datang lagi. 

Dalam kasus ini yang paling terpukul dan paling keras penentangannya adalah Bu Ahmad. Karena setelah kejadian itu, kebetulan aku bersilaturahmi ke rumahnya. Mungkin karena kita sudah terlalu akrab, dan mereka menganggapku seperti anaknya sendiri, maka tanpa sungkan mereka berbagi cerita kepadaku.

Dari sinilah akhirnya aku tahu, bahwa alasan utama mereka menolak keinginan Arti adalah mereka merasa shock. Mereka kecewa, karena belum juga Arti resmi menyandang gelar sarjana, wisuda pun belum terlaksana, tetapi sudah memutuskan ingin menikah.

Orangtuanya sangat berharap bahwa dengan sekolah tinggi, kelak ia akan bekerja memperoleh pekerjaan yang baik, berpenghasilan tinggi dan dapat mengubah kondisi perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Tapi kenyataannya, apa yang didapat sekarang? Lulus saja belum, tapi sudah berani mengajukan niat untuk menikah.

Lalu kedua orangtua Arti bertindak tegas padanya, dia tidak diijinkan pergi kemana-mana, mereka juga memutuskan untuk tidak memberi kesempatan bagi Arti untuk wisuda.
“Tak perlu wisuda, kalau mau wisuda, bayar saja sendiri!”
“Kalau mau menikah dengan dia, terserah.  Bapak dan Ibu tidak akan pernah datang. Anak-anak Ibu masih banyak, lebih baik kehilangan satu anak, Ibu ikhlas.”
“Untuk apa memelihara anak yang tidak tahu berterimakasih dan tidak tahu diri seperti kamu!” Ucap Bu Ahmad suatu hari pada Arti.
Sungguh, aku yang melihat sendiri bagaimana kecewanya kedua orangtua ini. Anak yang dulu dihadapanku begitu mereka banggakan, tapi kali ini mereka begitu tega mau mengusirnya. Sungguh perubahan yang amat drastis.

Mba Arti pun tak kalah sedihnya, semenjak itu kami jadi akrab. Bertiga bersama Arni, kami sering ngobrol. Seluruh keluarga besar Arti seakan memusuhinya, dan menjaga jarak, kecuali Arni karena memang mereka dari dulu sangat akrab dibanding saudara lainnya. Disamping itu mereka berdua juga mempunyai pemahaman yang sama.

Lalu keluarlah sebuah ide dari Arni, memintaku untuk menolong mba Arti.
Gubrakk!!
“Masalah pelik begini kok malah aku diikutsertakan,” ujarku mendelik.

Setelah melalui perdebatan yang tidak seimbang, 2 : 1, maka aku pun menyerah. Setelah dipikir memang Ibu Ahmad agak kelewatan, beliau tidak bisa menahan emosi, sampai akhirnya gelap mata dan berbuat kasar pada salah satu putri kesayangan mereka. Memang awalnya aku juga bersimpati dengan mereka, harapan mereka terhadap anaknya yang begitu besar tiba-tiba musnah, meski aku belum menjadi orangtua namun aku sedikit bisa merasakan kekecewaan itu. Namun, sikap yang ditunjukkan mereka terhadap Arti tak harus seekstrim itu.

Aku diminta mba Arti untuk menjadi “penghubung” antara dia dan Aa Yo serta Murobbinya yang tinggal di Bandung. Karena Bu Ahmad melarang penggunaan hp, dan mewanti-wanti anak-anaknya yang lain untuk membantu mba Arti. Beliau sengaja memutus semua akses mba Arti dengan Aa Yo juga dengan Murobbinya dan seluruh akses bernama “Bandung”.

Aku dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar, karena aku orang luar yang dekat dengan keluarga ini. Sehingga orangtua Arti tidak akan curiga kalau aku sering bolak-balik main ke rumah, karena aku sudah biasa. 

Lalu sandiwara itu dimulai, aku yang mengabari Aa Yo tentang perkembangan mba Arti dan keluarganya di Tegal. Termasuk menentukan jadwal yang tepat kapan mba Arti menelpon Aa Yo, Murobbi dan kawan kuliahnya untuk sekedar menanyakan info kampus terbaru. Kadang aku datang ke rumah, tapi juga kita mengadakan pertemuan singkat di jalan agar orangtua Arti tidak terlalu curiga. 

Selama masa “penahanan” ini akhirnya mba Arti memutuskan untuk bekerja. Aku sendiri tak percaya, seorang akhwat cantik yang sebentar lagi menyandang gelar Sarjana Ekonomi bekerja sebagai buruh pabrik rokok di kotaku. Tak ada pilihan lain katanya, meski ia sendiri tak mau bekerja di perusahaan rokok tersebut.

Terkadang aku pun masih berbincang-bincang dengan Pak Ahmad dan Bu Ahmad, namun tiap kali kami berbincang selalu saja membahas tentang Arti. Termasuk hari itu, betapa terkejutnya aku ketika mereka memberitahuku bahwa mba Arti akan dijodohkan dengan seseorang, sebut saja Yono.

Ah, saat itu kondisinya semakin memburuk. Pasangan Ahmad ternyata “memaksa” mba Arti untuk menikah dengan mas Yono. Anak dari teman dekat dekat Bu Ahmad, alasannya dari dulu merekalah yang membantu keluarga Ahmad, termasuk saat mereka meminjam uang untuk biaya kuliah mba Arti.

Sudah pasti mba Arti, menolak mentah-mentah rencana tersebut. Namun semakin menolak, maka semakin kencanglah tekanan yang dia peroleh. Hingga suatu hari dia memintaku untuk menemaninya menemui Aa Yo di Cilacap, tempat tinggal asli Aa Yo. Rencana “pelarian” sejenak telah disusun, kita tak mungkin menemuinya di Bandung karena waktunya tidak akan cukup.

Kita berdua pergi pagi-pagi, kebetulan mba Arti biasanya masuk kerja pagi. Dengan tetap memakai seragam kerja dia menjemputku ke terminal, menikmati perjalanan sekitar 4 jam. Aku jadi penasaran seperti apa sih Aa Yo ini, orang yang selama ini cuma aku dengar suaranya lewat telepon.

Dan akhirnya kami pun bertemu, tidak membuat pertemuan di restoran, kafe atau apapun. Tapi kami bertemu di masjid, dan sosok Aa Yo memang sosok yang santun, berwibawa dan dewasa, layak untuk dijadikan pemimpin. Entah alasan apa yang membuat orangtua Arti tidak suka, apa karena dia tidak kaya. Tapi dia sudah bekerja di sebuah perusahaan coklat terkenal di Bandung.

Perjalanan yang lama, perjuangan yang panjang hanya dituntaskan dengan pertemuan selama dua jam saja. Kukira mereka akan membahas tentang apa, membuat gebrakan apalah atau mungkin kawin lari dalam pikiranku. Tapi ternyata mereka hanya membahas kata “sabar”. Oh My God, setelah semua yang terjadi, dan usaha keras untuk bertemu yang ada hanya kata sabar?

Keadaan tak semakin membaik, mba Arti semakin “ditekan”. Tak lama setelah pertemuan itu, Aa Yo kembali menemui orangtua mba Arti. Namun seperti pertemuan sebelumnya, dia kembali diusir dan justru dipertemukan dengan calon yang rencananya akan dinikahkan dengan mba Arti. Emosi orangtua mba Arti masih saja memuncak, malah semakin memaksa mba Arti untuk segera menikah dengan lelaki pilihan mereka. Jika tidak, dia dipaksa untuk mengembalikan uang yang selama ini digunakan untuk membiayai kuliahnya, ancamannya kali ini tidak main-main.

Lalu di suatu pagi, mba Arti berkata padaku bahwa dia menyerah.
“Aku ingin menjadi anak yang berbakti, seperti mereka dulu menganggapku,"
“Aku memang mencintai Aa Yo, tapi jodohku mungkin adalah Mas Yono.”
“Rasanya menyedihkan ketika kita dianggap durhaka oleh orangtua sendiri. Mungkin aku tak boleh selalu egois, tak ada salahnya membahagiakan mereka ketika  masih bisa. Meski caranya harus seperti ini.” Ujarnya sambil terisak.

            Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Kisah ini sudah selesai, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan mba Arti ataupun Aa Yo. Hingga suatu hari Arni datang, dan memintaku untuk datang ke rumahnya.
“Mamah sudah tahu semuanya Mba, bahwa selama ini Mba lah yang menjadi penghubung diantara mba Arti dan Aa Yo.” Terang Arni dengan raut pias.

            Yah, aku terima saja resikonya. Tak salah lagi, aku langsung di sidang dihadapan pasangan Ahmad. Beribu cacian yang kudapat, seperti orang yang duduk di kursi pesakitan tanpa didampingi pengacara untuk membela. Termasuk Arni, dia hanya diam saja. Meski aku yakin pasti dia pun takkan terima, tapi baguslah jika dia bicara mungkin malah urusannya makin panjang.

            Aku tak melihat Arti di sana kala itu, dimana dia, bagaimana keadaannya, jadikah ia menikah dengan Mas Yono?
Bulan berlalu, dan tak pernah tahu lagi kelanjutan kisah ini. Kunjunganku ke rumah mereka, sengaja aku kurangi. Hingga suatu hari, Arni datang ke rumahku sambil membawa undangan.

            Ternyata undangan pernikahan mba Arti dan Aa Yo. Masya Allah, aku benar-benar kaget sekaligus bahagia. Bagaimana bisa?
Tapi aku tak peduli, dan tak ingin juga bertanya. Saat hari pernikahan itu, benar-benar yang kulihat adalah dua orang yang kutemui di Cilacap. Yang bertemu lalu hanya membahas sabar, dan aku gemas sekali dibuatnya.

Lihatlah perjuangan mereka, dan tampak semua keluarga berkumpul dan berbahagia. Kisah yang menakjubkan dan aku bangga menjadi bagian dari kisah mereka. Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian, yang dilaksanakan pada bulan Syawal. Pasangan berbahagia ini sekarang telah dikaruniai Allah tiga orang anak, Alhamdulillah. Inilah buah kesabaran dan kerja keras yang ikhlas, Allah pasti memudahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar